Adat Teradat di Zaman Now

0

Ilustrasi: Rumit di zaman now.
Cerpen: Benny Hakim Benardie

Siang terik, angin pantai bertiup lembut, senai-senai membawa uap garam singgah di kulit masyarakat Kota Bengkulu. Sebuah kota di bagian barat Pulau Sumatera yang konon enggan menguak berbagai ceritera lama bertuan. Negeri beradat yang pernah teradatkan, hingga pupus dihantam gelombang modernisasi yang didompleng korupsinisasi di abad generasi zaman now.

Hari ini tanggal 17 Maret 2018, tak tampak awan kelabu dilangit-langit kota. Kicauan burung, sudah puluhan tahun tergingan di telingga. Masyarakat mulai melupakan tutur kata, silsilah atau tembo. Kebiasaan yang sudah berlangsung lama di negeri ini dianggap usang. Adat yang tidak teradatkan lagi.

Generasi tua tampak kian lunglai. Generasi “Cik Tau Tapi Cik Slow’ kini seperti seekor ikan mati daging yang di jual orang di senja hari. Generasi zaman now mencoba eksit berdikari diantara tiang beton yang di perkirakannya sudah rapuh dimakan rayap. Sebuah istilah yang disadur, menginggat saat tiang kayu masih berjaya.

Cikben, seorang pemuda, mencoba berasimilasi dalam komunitas orang-orang adat yang teradatkan. Saat itu dalam suatu perkawinan dua suku, Bengkulu versus orang luar Bengkulu. Apapun aktifitas dalam prosesi adat, dikutinya tanpa dasar. Apa yang dianggapnya wajar dan rasional, suci, dilakoni Cikben tanpa tedeng aling-aling. Suatu tindakan yang pemeo orang Bengkulu bilang, “Setto-setto nasik idak bekuah”.

Tak ekslusif mengambil posisi, bagian ‘sapu jagatpun’ jadilah. Bagian membagikan, mengedangkan makanan hingga membersihkan pinggan atau piring usai tetamu melahap dilakoninya dengan suka cita.

****

Melintas di sebelah jendelah rumah tetangga hajatan, terdengar seorang anak muda sedang menghapal puisi untuk persiapan pentas disekolahnya. Entah karangan siapa puisi itu, tapi Cikben sempat berhenti sejenak sekedar ingin tahu saja. Mumpung prosesi perkawinan belum dimulai.

“Mau Bangkit.

Maukah kamu di injak, mengatur lagi?

Asa tak membutuhkan lagi rasa.

Asa jangan ditulikan lagi dengan persyaratan hukum dan nalar.

Jangan lagi batu di adu dengan batu.

Kami butuh air untuk menghantam batu.

Jangan kami disuruh menantang badai, karena badai pasti berlalu”, teriak anak lelaki di balik dinding kamarnya.

Cikben tampak segera berlalu, sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Pasti bukan maksud dirinya salut atau paham, tapi malah sebaliknya. “Merobek kelembutan untuk kekerasan”, ngedumel Cik dengan sebatang rokok merek kelas bawah menempel di bibirnya. Agak tersentak ia, saat prosesi ijab kabul perkawinan akan dilaksanakan.

****

Ketujuh anggota penghidang makanan segera bersiap-siap. Makanan baru akan dihidangkan, setelah prosesi tadi dilaksanakan. Ini sesuai pengarahan rapat pantia sebelumnya. Para anggota berkain sarungbersiap-siap mengambil posisi didapur. Akhirnya saat urusan perut itu tiba dan anggapan kesalahan itu dimulai.

Seorang gaek dari salah satu orang adat berkata tegas dengan suara pelan dari dalam ruangan. “Ada berapa macam gulai yang akan disajikan untuk disini”, tanya sembari menunjuk pada seluruh orang-orang adat yang ada.

Saat itu hanya kepala Cikben yang tampak nonggol dibalik kain pintu. Segera menoleh dan menghitung gulai yang ada di atas nampan.

“Ada lima macam pak”.

“Ya sudah kalau begitu sajikan saja sekarang” perintah gaek tua itu.

Cikben dengan temannya segera mengangkat lima piring gulai rendang dalam satu nampan dan segera dihidangkannya dihadapan orang-orang adat. Gulai ikan, goreng sambal kentang, tumis buncis campur mie dan gulai rebung asam campur tempuyak bergantian terhidang diatas tikar permadani yang berwarna warni tidak serasi.

Belum usai dibagikan hidangan itu dihadapan orang-orang ada, salah seorang ketua adat dari pihak lelaki berteriak. “Apa-apaan ini! Apa disini tidak ada yang mengerti adat? Lima macam gulai itu bukan dalam satu jenis, melainkan satu nampan terdiri dari lima macam gulai”, teriaknya tertuju ke Cikben yang berada di barisan depan. “Ini pelanggaran adat”, dengan suara tinggi.

Ciut sudah hati suka cita tadi. Marah kecewa dengan ucapan pelangaran yang berarti kesalahan dalam menyusun dan melayani orang-orang adat itu. Segera berdiri beranjak pergi para pengedang makanan itu, tinggalkan tugasnya dan duduk di belakang dapur rumah.

“Ah…..masa soal ini saja harus dipermasalahkan sih. Bukankah seorang pujangga mahsyur pernah bilang untuk dan jangan terikat pada adat, karena adat itu dapat memperpendek akal?”, bisik Cikben dengan teman pengedang makanan lainnya yang tampak kecewa atas ucapan salah seorang ketua adat tadi.

****

Ingin bubar takut nanti dikatakan sosok generasi tak bertangungjawab. Formasi akhirnya dilakukan rotasi. Kelompok Cikben mengambil alih urusan memungut piring kotor yang berada diluar ruangan yang tampak berserakan. Dari halaman luar, terdengar gunjingan seseorang ibu yang mengenakan celana panjang berbaju kaos.

“Eh dengar nggak….Tadi itu ketua adat yang berada di belakang kita marah besar, saat pengantin tak disambut sesuai adat istiadat Bengkulu”, gunjingnya .

“Ia, tadi saya juga dengan dia bilang kalau acara perkawinan ini mengunakan adat setengah-setengah. Sebaiknya tidak usah memakai adat sama sekali. Kalau beginikan merusak adat. Itu kata orang adat tadi”, jawab teman ibu tadi.

Berkerut kening Cikben entah apa yang terlintas dibenaknya. Beberapa pinggan atau piring kotor, gelas segera dibereskan dan dimasukannya didalam sebuah panci agak sedikit besar. Perpanci diboyongnya ketempat cuci piring di belakang dapur. Untuk menghilangkan bau yang kurang sedap di hidung, akibat sisa makanan dari dalam piring, sebatang rokok kembali dihisapnya dan selalu menempel dibibirnya.

Rupanya apa yang dilakukan Cikben kembali dihardik dan dikatakan sudah melakukan pelanggaran adat. Salah satu orang-orang adat lain menyambanginya, saat akan menarik nafas karena lelah akibat panasnya Kota Bengkulu.

“Saya ingatkan, untuk kamu tidak melakukannya lagi disini atau ditempat lain. Mengangkat piring kotor sembari merokok itu tidak benar. Untuk itu terjadi di zaman now. Kalau zaman dahulu, kamu sudah di berang, dimarahi”, bentak orang itu. Cikben segera meminta maaf, agar tidak ada perdebatan panjang di depan orang ramai.

Dilepaskannya kain sarung dan ditaruhnya diatas pundak. Duduk ia di kerumunan orang yang tadi sempat tersenyum saat melihat dirinya dimarahi oleh orang-orang adat. “Aturan seperti apa ini. Apakah kesalahan yang aku lakukan merupakan perbuatan dosa dan aku nantinya dapat dimasukan kedalam neraka? Inikan hanya sebuah permainan dunia dalam mengisi hidup saja”, jelasnya sebelum ada pertanyaan dari orang lain.

Jurnalis dan Cerpenis

Leave A Reply

Your email address will not be published.