Angan-Angan

0
Ilustrasi Chusin
Ilustrasi Chusin

Cerpen: Benny Hakim Benardie
Seorang Ayah berharap anaknya dapat besekolah ‘setinggi langit’. Alasannya, kehidupan kedepan butuh orang yang pintar dengan ilmu yang mempuni.

Sang ibu hanya terdiam dengan mata berkaca-kaca, mendengar harapan suaminya bertutur kepada anak-anaknya.  suasana sempat hening, saat pituah itu mengaung ke dinding gubuk reot pusaka usang.

Kenapa  Sang Ayah berharap, padahal dirinya tidak punya kemampuan. Jangankan mengais rezeki, berjalan saja kakinya bergemetar hebat.

Kenapa pula Sang Ibu hanya bisa menangis didalam hati, sementara dalam sehari sayuran yang di jualnya kerap habis di beli para tetangga. Meskipun sayuran itu di ambil dari pinggiran aliran siring para tetangga.

Tetangga tidak tahu harapan Sang Ayah dan tangisan Sang Ibu. Seandainya mereka tahu, nasehat dagelan nyeleneh mungkin akan keluar dari bibirnya.

“Sabar saja. Terima saja apa adanya hidup ini. Kalau Pohon itu Sama Tinggi, Kemana Angin Hendak lalu”.

Pilu   
Di depan gubuk reot itu tampak  para Ateis tertawa, beradai-andai sembari merokok dihadapan segelas kopi dan kue. Sesekali mereka mungucapkan, memuji  nama Tuhan, padahal mereka Ateis.

Obrolan tentang enaknya kalau jadi Pejabat Negeri tapi memegang proyek ratusan hingga miliaran rupiah, hingga mengunjingkan studi banding anggota DPRD yang dari dulu sering keluar  provinsi dan keluar negeri, dengan hasilnya seperti yang mereka lihat saat ini.

Sementara didekatnya ada gubuk reot, dimana penghuninya sedang memikirkan “Kenapa Langit Tak Bertiang”.

Ayah berharap, ibu mengaminkan sembari pilu. Berharap anaknya mendapat bea siswa pupus, karena kecerdasan dan kepintaran anaknya terbatas.

“Mak, ibu guru minta sumbangan uang tamplak meja 100 Rupiah,” kata anak sulungnya. “Aku juga….Aku juga 100,” sambut ketiga anaknya yang lain.

Sang Ayah kembali menarik nafas panjang, sedangkan ibu hanya tersenyum sembari menyisir rambutnya. “Sabar, sabar, siapa tahu sore nanti Tuhan memberikan rezeki,” bujuk ibu tampak menelan ludah.

Putus sekolah
Keesokan harinya, tangisan Sang ibu pecah, dan ayah menitikkan air mata saat ke keempat anaknya merongrong minta uang seribu rupiah.

Orang tua ini tak dapat menjawab, karena kemarin tak ada sayuran yang dapat dijual lagi. Sayuran yang tumbuh di siring sudah kering usai disiram rancun rumput saat warga melakukan kebersihan.

Anak-anak tidak mau bersekolah, karena uang sekolah tiga bulan lalu juga belum terbayarkan. Putus sekolah merupakan langkah yang harus diterima, dan itu bukan pilihan, tapi kepasrahan.

Dada ayah kian sesak. Perut keluarga gubuk reot itu  nampak sakit seperti orang kena diare. Mereka rupanya lapar, karena Emak tadi juga lupa merebus umbi keladi yang diperolehnya dari belakang rumah.

Azan Magribpun berkumandang, angan-angan lapar buyar, saat pihak kemananan datang dengan tudingan, kalau anak-anak mereka siang tadi telah mencuri jambu milik juragan kopi.

Tak ada air mata yang keluar di kedua orang tua itu. Tak ada ucapan pembelaan, perlawanan saat keempat anaknya berteriak minta tolong dan mengaku kalau mereka tidak mencuri. Mereka siang itu tidak mencuri jambu, melainkan menyusuri siring, menangkapi ikan kepala timah.

Rupanya, Ikan itu Busuk dari Kepala Baru ke Ekornya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.