Benteng Marlborough Jadi Saksi Ketika Anak – Anak Murka Atas Perbuatan Korupsi

Idang Serawai Teatrikal

Kota Bengkulu,kupasbengkulu.com – Sekali waktu ada yang tampak beda dari sudut Benteng Malbrough, sekilas masih tampak para pengunjung Benteng Marlborough menikmati bangunan bersejarah milik Inggris.  Benteng Marlborough adalah benteng peninggalan Inggris di Kota Bengkulu. Benteng ini didirikan oleh East India Company tahun 1713-1719 di bawah pimpinan gubernur Joseph Callet sebagai benteng pertahanan Inggris diwilayah pesisir barat Kota Bengkulu.

Namun ada pemandangan menarik dari sudut benteng bertuliskan Forth keberadaan Benteng Marlbrough ini di petang Jum’at (30/07/2017), Seorang pemuda mengenakan kemeja putih bersih, dilengkapi dengan peci berkaligrafi Arab duduk dengan tenang pada sebuah Kursi berwarna putih menambah kesan elegannya ketika seseorang mendapatkan hukuman atas perbuatan korupsi, penampilannya tampak sekilas selayaknya seorang pejabat teras di Pemerintahan, dengan wajah tertutup kertas bertuliskan “saya korupsi” memang menarik perhatian para pengunjung di sekitaran Benteng Malbrough terutama anak – anak. Diketahui pemuda tersebut bernama Idang Serawai, merupakan mahasiswa dari Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang.

Idang dengan santai duduk pada sebuah kursi berwarna putih, seoalah-olah dirinya adalah pelaku korupsi yang menantikan sanksi dari masyarakat, tak berapa lama, sekelompok anak kecil bertubuh kurus kering dan sedikit tampak kumal, datang menedekat pada kursi yang didudukinya. Tanpa ba – bi – bu. Hantaman sandal jepit mulai menghantam keras pada wajah yang tertutup itu, Idang hanya terlihat pasrah, belum lagi umpatan langsung yang ditujukan pada Idang seolah – olah dirinya adalah pelaku dari Koruptor yang merampas hak masyarakat.

“Tukang Korupsi tukang membuat kami anak – anak miskin kami benci pada pelaku korupsi karena kamu kami sulit untuk hidup sejahtera, bapak kami pontang – panting cari uang kamu korupsi kurang ajar! !” sebuah ucapan keras dari anak anak yang memang tampak kesal.

Dengan wajah tenang. Idang usai mendapatkan banyak hantaman keras dari anak – anak dengan tarikan nafas cukup panjang mengatakan pada sekelompok anak – anak tadi, yang memang diketahui merupakan anak – anak pantai, dikenal dengan sikap yang cenderung keras, terdengar pelan namun bermakna, sedikit menusuk ketelinga siapa saja yang mendengarkan.

“Kalian tahu mengapa aku hanya berdiam kalian pukuli,? tanya Idang dengan sedikit wajah yang berkaca- kaca, lalu sejenak Idang melanjutkan bahwa ini sebagai bentuk bonus bagi anak – anak pesisir yang menjadi bagian dari korban tindak pidana Korupsi.

“Sakit ini tak sebanding dengan apa yang kalian alami dari perbuatan korupsi para pemilik jabatan di negara ini, dik, jadi jika kalian nanti menjadi pembesar di negara ini maka berfikirlah untuk melakukan hal yang menjijikan ini, korupsi itu sangat menyengsarakan kita,” pesan Idang pada sekelompok anak – anak tersebut.

Kepada Kupasbengkulu.com  Idang mengakui apa yang ia lakukan ini adalah wujud dari kekesalannya atas perbuatan yang terus mencoreng nama tanah kelahirannya, Korupsi seakan -akan menjadi budaya yang masif, dan sulit untuk dihentikan, oleh karena itu dirinya yang memang mencintai Seni ini mencoba menyalurkan apa yang dapat ia berikan demi membangkitkan kesadaran masyarakat di provinsi bengkulu untuk ikut mengawal banyaknya tindak pidana korupsi, yang secara jelas tak pernah memberikan keuntungan, dan selalu hanya menciderai masyarakat.

“Sebagai mahasiswa saya menjadi sadar bahwa provinsi ini memang perlu dipantau, dan khususnya perbuatan korupsi ini memang menjadi budaya sepertinya, hitung saja, sudah tiga orang kepala daerah setingkat gubernur menjadi tersangka korupsi, jadi kapan kita akan maju, yang jadi korban kita semua,” ungkap Idang.

Kemudian Idang juga menyesalkan atas apa yang dialami oleh gubernur Bengkulu Ridwan Mukti, bersama sang Istri Lili Madari yang tertangkap tangan oleh pihak Komisi Pemberantasn Korupsi (KPK).

“Itulah yang menjadi penyesalan kita kenapa provinsi ini terus mendapatkan hukuman, anak – anak tadi lihat bertubuh kurus, berbaju kumal, dan sekolah mungkin saja sulit, tapi mereka secara tidak langsung menjadi korban tindak pidana korupsi itu,”ungkap Idang.

Belum lagi menurutnya kekayaan Alam yang terus menerus digerus, tanpa mempertimbangkan keberlangsungan masyarakat kecil, ini sungguh menyakitkan bagi Idang. menurutnya Rakyat kecil terus menjadi korban dari penguasa, di desa misalnya petani di tanah mereka dirampas, mereka di penjara, sedangkan pemimpin negeri ini seolah -olah buta dan tuli semua.

“Itulah baladanya jika hidup di negeri antah berantah ini,”katanya lirih.(nvd)

 

 

 

 

Tidak ada kometar

Leave a Reply