Biarkan Bansos itu Tiarap

Resonansi: Benny Hakim Benardie

Resonansi: Benny Hakim Benardie

Kita sudah tahu tidak ada tersangka kasus Bansos di Kota Bengkulu lagi. Apa dan siapa yang mendapatkan dana bantuan sosial itu, jawabanya semua orang juga sudah tahu.  Kita bertanya, kita harus geram, berang. Lalu kita meludah. cuh, pih!

Kita tidak usah memikirkan itu terus. Jangan berang terus, Jangan meludah terus. Nanti kalau darah kita menjadi tinggi  bagaimana? Sariawan mulut kita nanti, dan susah untuk bicara lagi nanti.

Memang kata jaksa akan ada penyelidikan ulang kasus Bansos. Akan ada Sprindik baru. Tapikan itu waktu hangat-hangatnya. Sekarangkan sudah adem. Jadi janganlah lagi kita berandai-andai. Pasrah jangan resah. Resahlah pada apa yang ada kini.

Cik Ben tak sengaja terlibat debat  dengan sekelompok mahasiswa dan satu dua orang aktivis bangkotan. Saat itu Cik Ben sedang berselfieria di Simpang Lima Ratu Samban, saat mereka sedang melakukan aksi unjuk rasa.

“Photo kami sama dengan larat belakang gudung ini ya Cik,” tegur salah seorang mahasiswa.

Cik Benpun sempat tersentak dengan permintaan yang serasa perintah itu.

“Kantor sebelah gedung ini juga. Sayanya juga dimasukin ya,” kata mahasiswa yang lain.

Tentu saja Cik Ben tak mau menuruti  permintaan itu.

“Kenapa aku harus memotret kalian dan dua gedung itu,” tanya Cik Ben sembari mengecap permen yang dikulumnya  dari tadi tak kunjung habis.

“Ini moment kalau anda mau ambil sebagai kenangan anak cucu  nanti,” jelas seorang mahasiswi yang mengunakan pakaian rapih, dengan tas mahal disandangnya.

Cik Ben mendebak, kalau yang berpakaian rapi itu adalah pemimpin unjuk rasa. Ternyata sangkaan itu meleset.
Mulut mahasiswi itu terus nyerocos. Kalau aksi mereka ini demi kasus Bansos di Kota Bengkulu. Katanya mau diusut ulang, ternyata belum juga.

“Lah kalau begitu artinya ada yang salah ada yang benar. Atau mungkin semuanya benar, hanya saja jaksanya khilaf, maka terkesan salah,” tanya Cik Ben.

Para pengunjuk rasa tampak bingung. Aktifis bangkotan yang berdiri dipinggir hanya sumringah sembari mengarukan kepalanya yang tidak gatal.

Mungkin saja yang bangkotan itu tahu, kalau hukum itu diciptakan untuk kepentingan politik. Karena hukum itu di bentuk oleh tangan-tangan politik. Atau mereka juga mengerti kalau segengam kekuasaan lebih berharga dari pada sekeranjang kekuatan.  Karena itu mereka berdiri dipinggir saja mengamati.

“Lantas harus diapakan kasus Bansos yang kini terkesan tiarap ini Cik,” tanya salah seorang aktifis bangkotan.
“Lihat dan nikmati saja. Biarkan dia tiarap  dan mendapat kenikmatan dalam hidup bebas. Ingat, tiarap itu saat posisi kita memperkosa bumi,”.

Penuis dan jurnalis

Tidak ada kometar

Leave a Reply