Bukit Badas Kampung si Tuo dan Orang Sekalak

Desa Sekalak Kabupaten Seluma

Kupasbengkulu.com- Pada sebuah kawasan Hutan Produksi Terbatas Bukit Badas (HPT) terdapat pemukiman yang dinamai Desa Sekalak, desa ini masuk dalam Kecamatan Seluma Utara Kabupaten Seluma Provinsi Bengkulu. HPT Bukit Badas berada di atas Kawasan Taman Buruh Semidang Bukit Kabuh.

Ada sebuah Istiliah si Tuo sebutan yang sering didengar jika memasuki sebuah perkampungan tua di tengah – tengah kawasan hutan, begitu juga dengan desa Sekalak Kabupaten Seluma yang dikarunia oleh keindahan Alamnya. Selain memiliki keindahan alam, orang – orang di desa Sekalak yang berasal dari suku serawai juga memiliki kisah sarat makna dengan si tuo atau Harimau Sumatera. Untuk mencapai desa ini butuh waktu kurang lebih sekitar 5 jam berjalan kaki dengan medan track yang didominasi oleh punggungan.

Keberadaan Desa Sekalak diceritakan oleh Imam Desa Sekalak Awaludin (54) , tidak terlepas dari cerita leluhur sekitar tentang Puyang Tingkis. Puyang tingkis adalah orang sakti yang menjelma menjadi harimau. Puyang tingkis memiliki jari tangan 9, dikarenakan salah satu jarinya (Jempol tangan) hilang akibat tertimpa batu di sungai, pada saat itu berdasarkan cerita masyarakat Puyang Tingkis sedang memasang Kalak (Alat penangkap ikan tradisional) saat itula sebuah batu besar menimpa beliau. Kemudian sejak saat itu daerah ini di kenal Desa Sekalak, dimana disana terdapat sungai yang bernama Sungai Sekalak.

Misalnya Goa Nek Tingkis 718 km dari desa. Gua ini dipercaya masyarakat sebagai tempat peristirahat Puyang Tingkis (Menjelma Harimau). Keberadaannya tidak jauh dari Jembatan gantung Sungai Sekalak yang menyisiri sungai ke ilir sungai.

“Itu cerita yang masih kami percayai hingga sekarang,”ujarnya

Desa Skalak juga memiliki tradisi dan cara tersendiri dalam membangun kehidupan bersama si tuo (Harimau Sumatera). orang – orang di Desa sklak menganggap harimau sumatera sebagai saudara tua. Meski harimau merupakn hewan buas namun tidak berlaku bagi mereka orang – orang sekalak, mereka tidak pernah membunuhnya, meski beberapa kali terdengar bahwa harimau banyak menyerang manusia. selain kepercayaan lama yang telah ditanamkan ini, tindakan pemburuan dan penangkapan terhadap harimau telah dipahami oleh orang – orang desa sklak sebagai tindakan yang melanggar norma – norma yang berlaku dari zaman nenek moyang mereka.

Sebuah kepercayaan juga bagi masyarakat Desa Sekalak tentang larangan terhadap Si Tuo seperti, tidak diperbolehkannya melakukan perjalanan menuju ladang terlalu pagi hari pukul 05.30 – 07.00 Wib atau terlalu magrib jam 17.30 – 18.30 wib, atau berjalan diwaktu hujan panas, membuka rebung di sungai dipagi hari atau magrib, mandi di sungai Sekalak dengan tidak memakai pakaian dalam. Serta dikatakan juga oleh Awaludin bahwa orang – orang yang mendiami Desa Sekalak pada mulanya hidup dengan cara berpindah – pindah (Nomaden) untuk mencari tempat yang subur dari daerah Puguk. Berdasarkan kepercayaan masyarakat, bahwa daerah yang subur dapat dilihat bila tumbuhan jenis kemag bisa hidup maka tanah tersebut dipercaya subur.

“Sudah sejak lama kami disini mempercayai bahwa leluhur disini ada yang menjelma menjadi puyangan harimau, dan kami hidup juga dulunya pindah – pindah karena banyak faktor,”katanya

Berdasarkan data yang dimiliki Kepala Desa Pak Sudarmono (42) jumlah penduduk yang mendiami wilayah ini sebanyak lebih kurang 1000 jiwa, dengan jumlah Kepala keluarga (KK) 296 KK (Data 2016). Masyarakat desa Sekalak masi memegang teguh tradisi gotong royong, hal ini bisa terlihat pada saat hajatan di desa. Seperti pernikahan, bertani, berkebun, dan khusunya di acara Petunggu Desa. Acara Penunggu Desa, adalah sebuah agenda rutin masyarakat desa Sekalak yang di adakan setiap 3 tahun sekali. Tiga tahun adalah hasil penerawangan orang pintar (Tokoh adat dan agama) yang berdasarkan kesepakatan dengan leluhur masyarakat desa (Puyang Tingkis) / Si Tuo/ Nek. Si tuo dalam pemahaman masyarakat desa Sekalak adalah saudara Tua, manusia saudara kedua, dan hewan lain (gajah dan lainya) adalah saudara paling bungsu.

“Acara ini kami namakan petunggu desa itu tiga tahun sekali, juga kami menganggap mereka itu sebagai bagian dari kami disini,”ungkapnya.

Konflik dengan si Tuo mulai terjadi

Akan tetapi seiring berjalnya waktu, keharmonisan antara si Tuo dan orang – orang yang bermukim di desa Sekalak mulai tidak terawat, ini diduga lantaran di Kabupaten seluma sendiri, terdapat beberapa konsesi pertambangan batubara. Diantara PT. BBS/BBU (Bukit Bara Utama) berada didaerah Pekan Talang Karet Kecamatan Tumbukan Kabupaten Seluma yang sudah tidak beroperasi, PT Bara Indah Lestari (Masih beroperasi) , PT PT. Bumi Arya Syam & Syah Resources dan PT PT. Ratu Samban Mining (Terakhir tercatat beralih nama PT Donging Resorces),

Saat ini yang masi beroperasi hanya PT Bara Indah Lestari (PT BIL), yang berada di kawasan HPT Bukit Badas Reg 76. Dan berbatasan langsung dengan kebun kopi masyarakat Desa Sekalak. diwilayah konsesi PT BIL ini diketahui merupakan wilayah jelajah harimau sumatera. Keberadaan tambang batubara di sekitar wilayah jelajah Harimau Sumatera, akibat adanya operasi pertambangan ini diduga telah mengganggu dan menggerus keberadaan harimau sumatera, tidak hanya akan mendorong kepunaan harimau sebagai hewan endemik Sumatera tetapi juga mendorong terjadinya konflik antara harimau sumatera dengan masyarakat sekitar.

Dari keterangan Sirwan yang juga merupakan perangkat Desa Sekalak, bahwa tercatat di telah beberapa kali terjadi konflik langsung antara manusia dan Harimau Sumatera. Terjadi pada tahun 2005 – Sekarang (Sejak ada konsesi pertambangan Batu bara di HHPT Bukit Badas Reg 76). Harimau sumatera masuk desa sekalak dan makan hewan ternak Tahun 2014, harimau memakan korban satu orang. Warga Talang Beringin berjarak 4 Km dari Desa Sekalak. Malam jumat, bulan Mei 2017 ini. Dua orang warga sekalak melihat harimau sumatera di Taman Buruh Semidang Bukit Kabu. Tapi tidak memakan Korban Penyerangan terhadap sopi tambang Memakan korban warga masyarakat desa Lubuk Resam Meningkatkan Hewan masyarakat yang diserang harimau Sumatera.

“Itu yang sudah menjadi korban dari si Tuo,” ungkapnya.

untuk diketahui juga berdasarkan data yang dimiliki oleh BKSDA Harimau Sumatera merupakan Fauna dilindungi, dan jenis hewan yang habitatnya khusus hidup di Pulau Sumatera. Salah satu wilayah jelajah harimau sumatera yang masih terdata adalah di TNBBS, yang wilayah jelajahnya sampai di Kabupaten Seluma, Bengkulu Selatan, dan Kabupaten Kaur. Pada saat ini terdata ada sekitar 12 ekor (BKSDA Provinsi Bengkulu).

Anggi Noverdo