Cerpen: Menangiskah Gadis Bengkulu di Eropa?

1

419921_344830952226861_841421909_n

By: Benny Benardie
Angin senai-senai berhembus lembut dari balik gemerisik pohon bambu di Negeri Mati, sebutan lain Negeri Bengkulu di 190 Tahun nan lalu.

Negeri ini terus menjadi lirikan para pengaruing lautan saat melintas di perairannya. Hasil bumi dan keramahan penduduknya menjadi kerinduan tersendiri tanpa pilihan lain.

Tuangku Radja Bilang terus memantau kondisi negeri ini dari Fort Marlborough, tempa dirinya bekerja Hoofd Jaksa. Tahun 15 September 1826 merupakan tahun cobaan yang berat baginya, dimana ia melihat anak negeri di persunting orang-orang Inggris yang bercokol di negeri ini.

Kerisauan itu ditambah kabar, kalau banyak gadis negeri ini akan di boyong ke eropa. meskipun sudah dipersunting, namun Tuangku Radja Bilang terlintas khayal bila gadis negeri ini tersia-siakan nantinya di eropa.

“Hei babu, tolong buatkan saya secangkir kopi. Jangan lupa koe beli rebus ubi di lepau pinggir pantai”, kata Tuanku Radja Bilang dalam keresahan.

Sebagai pribumi Negeri Bengkulu, keperduliannya terhadap daerah yang dipijaknya menjadi beban moral dan mental. Bukan karena dirinya sebagai seorang Hoofd Jaksa, tapi ditanah inilah pancaran darah ibunya tumpah.

Walaupun dirinya berdarah Koto Gadang Minang Kabau. Sejak awal tahun 1800-an, dirinya ditugaskan pemerintah kala itu untuk mengabdi di Negeri Bengkulu ini.

Bersama tertua dan para pemimpin Negeri Bengkulu lainnya, Tuangku Radja Bilang mengelar rapat di gedung belakang dekat perkampungan Cina. Suasana tegangpun tampak saat pembahasan.

“Mesikipun gadis negeri ini ada yang sudah dipersunting orang Inggris, namun kebijakan untuk membawa mereka ke Eropa harus di gagalkan” , kata Tuanku Radlja Bilang.

Ide tersebut disambut baik dengan yang lainnya. “Harus kita buat surat protes ke pemerintah Inggris, karena itu tida sesuai dengan aturan atau norma adat yang hidup di negeri ini”, tegas Pengeran Linggang Alam.

Hari menjelang sore, rapat terbatas di bubarkan. dengan mengunakan kereta angin (Sepeda), Tuangku Radja Bilang bergegas pulang ke daerah Pasar Melintang. Malamnya ia tampak membuat konsep surat protes kepada pemerinta Inggris yang berkuasa.

” Sudah larut malam Dang? apa gerangan yang dibuat itu”, tegur Amna, adik Radja Bilang.

“Tidurlah Amna, Dang lagi buat pekerjaan kantor. Kamu jangan keluar pintu, nanti diganggu polisi Inggris yang lagi menggila. Mana Encik Naurinnah kau sama Donga Radja Gendam “, tanya Tuanku Radja Bilang ke Amna soal keberadaan isteri dan adiknya.

Surat Protes
Fajar menyinsing, kicauan Burung Muray Batu terdengar dari dahan kopi di daerah Kebun Roos. Hari ini Tuanku Radja Bilang sengaja tidak mengayuh kereta anginnya, menyisir jalan ke arah wilayah Jitra, dimana para pejabat Inggris dan pribumi acapkali berkumpul dan mengopi.

“Tuan-tuan tabik tuan……Saya minta di dengar. Hari ini saya akan melakukan protes kepada pemerintah, yang mengijinkan gadis Bengkulu di boyong ke eropa, atau Negeri Inggris”, pekik Tuanku.

Hari ini bersama pejuang lainnya beliau melayangkan surat protes keras kepada pemerintah Inggris, atas kebijakan mengijinkan, membawa para gadis-gadis Bengkulu yang dinikahi, untuk dibawa ke eropa. Ulah yang dilakukan itu bertentangan dengan adat Negeri Melayu Bengkulu.

“Nah ada apa ini, Bukankah Tuanku Radja Bilang itu selain hoofd Jaksa, ia juga sebagai penjembatan penyelesaikan kasus-kasus antara pemerintah kolonial kala itu?” tanya beberapa tokoh negeri yang merasa aneh.

Surat protespun melayang, namun kekuasaan tetap tegak dengan kuat. Rupanya segengam kekuasaan lebih berharga dari sekeranjang kekuatan. Aturan adatpun tertampik.

Di Tahun 1838 letih karena umur dirasakan Tuanku Radja Bilang. delapan anaknya kian berumur dan ingin berperan bagi Negeri Bengkulu, sebagaimana Sang Ayah.

kabarnya, di Inggris, bayak keturunan gadis Negeri Bengkulu yang hidup dan membaur hingga kini.

“Mereka masih ingatkah sama kampoeng asalnya?” tanya Sabrina Rianti Tasyah yang memikirkan kisah seorang gadis yang dipersunting dan dibawa jauh dari sanak saudaranya. Sabar Menanti dan Pasyrah (Sabrina Rianti Tasyah).

Penulis dan Jurnalis

1 Comment
  1. Achmad Syiafril says

    1838 ITU ORANG Inggris lapejam latebang hambur Cik sejak 1825 ,,,,,,

Leave A Reply

Your email address will not be published.