Seremonial Pembukaan Festival Tabut 2014

Seremonial Pembukaan Festival Tabut 2014

Bengkulu, kupasbengkulu.com – Diskusi Kamisan putaran kedua kali ini, Kamis (6/11/2014), redaksi kupasbengkulu.com mengangkat tema “Festival Tabut Semakin Tak Berbobot”.

Cukup mengenaskan memang fakta yang terjadi Festival Tabut sebuah perayaan daerah Provinsi Bengkulu yang telah diagendakan menjadi agenda budaya nasional oleh kementerian namun selalu berlangsung kurang memiliki daya dobrak, terutama bagi pengenalan Bengkulu ke pentas nasional bahkan internasional.

Komentar beberapa tokoh Bengkulu juga wajib kita apresiasi bila perayaan yang dirindukan warga Bengkulu ini selalu berlangsung tak serius dengan hasil tak maksimal.

Dalam diskusi ini kupasbengkulu.com mengundang Ketua Kerukunan Keluarga Tabot (KKT) Syafril, Dinas Pariwisata Provinsi Bengkulu, serta dua perusahaan biro jasa perjalanan wisata. Namun hanya Syafril yang datang dalam diskusi tersebut, undangan yang lain mengonfirmasi tak dapat mengikuti diskusi karena kepentingan lain.

Dengan gaya khasnya suara yang sedikit melengking Syafril membuka diskusi dengan awal mula kekacauan Festival Tabut berawal dari renovasi lapangan tugu, sekarang disebut Lapangan Merdeka atau view tower.

“Awalnya pemerintah merenovasi kawasan itu hanya delapan bulan namun pekerjaan proyek molor menjadi lima tahun, sehingga lima kali perayaan tabut menjadi tak terfokus dan terpecah-pecah,” kata Syafril membuka pembicaraan.

Ia melanjutkan, sejak saat itu Festival Tabut digelar sangat formalitas, agenda rutin tetapi tak memiliki daya dobrak bagi pembangunan Bengkulu. Padahal lanjut dia, Kementerian Pariwisata dan Industri Kreatif selalu mengingatkan agar perencanaan festival ini dilakukan secara matang dan panjang.

“Tahun ini tabut sedikit lebih baik, bila tahun lalu, KKT sama sekali tak pernah diajak rapat mendadak festival dimulai, tahun ini persiapan hanya satu bulan, ini sangat tak cukup, tapi lebih baik dibanding tahun lalu,” jelas Syafril.

Empat Kelemahan Festival Tabut

Ia menyebutkan ada empat penyebab Festival Tabut tak memiliki daya pikat baik secara nasional maupun internasional Pertama perencanaan yang tak matang dan terkesan dilakukan secara serampangan, kedua kemasan acara harus dilakukan secara kreatif, ketiga beberapa aset tabut yang mulai diambil masyarakat, keempat promosi dan publikasi.

“Selama ini keempat hal itu tak pernah diselesaikan secara bijak dan serius,” tegasnya.

Ia juga menyesalkan aset tanah di Karbela seluas 3,46 hektare sebagai cagar budaya tabut yang telah diputuskan di dalam Perda 14 tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bengkulu diambil oleh warga.

“Saat ini tanah tersebut tersisa 0,5 hektare saja, mereka itu melanggar menduduki tanah cagar budaya, karena tabut ini telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda,” sesalnya.

Terhadap hasil perayaan festival tabut yang tak maksimal ia menyebutkan dua orang yang paling bertanggungjawab penuh yakni gubernur dan wali kota.

“Semua warga bertanggungjawab namun yang paling bertanggungjawab yakni gubernur dan wali kota, kedua pemimpin ini harusnya duduk bareng dan menyiapkan agar festival tabut digelar secara serius dan memiliki dampak positif terhadap masyarakat,” bebernya.

Lebih jauh ia menyatakan selain keempat persoalan tersebut hal yang paling penting bagi kesuksesan pagelaran ini adalah pendanaan. Dibutuhkan Rp 10 miliar agar festival menghasilkan sesuatu yang berkualitas dan itu dapat diakses di kemneterian.

“Harga itu Rp 8 miliar dihabiskan untuk promosi di media nasional, bandara, dan promosi lainnya,” lanjutnya.

Tabut Berdampak Investasi Ekonomi dan Diplomasi Politik Internasional

Sementara itu, MA. Prihatno salah seorang peserta diskusi menyebutkan ada dua dampak Festival Tabut yang berimbas positif pada masyarakat Bengkulu. Pertama dampak ekonomi dan investasi jika kegiatan ini dikemas dan dilakukan secara baik.

“Selama ini dampak ekonomi hanya dirasakan para pedagang saja tapi ini bisa jauh lebih besar dengan masuknya investasi dari tiga negara berkepentingan terhadap tabut, yakni Irak, Iran dan Pakistan,” jelasnya.

Sebelumnya, Syafril menyebutkan Iran bersedia membangun pusat studi kebudayaan di Kota Bengkulu bila pemerintah serius menggalang kerjasama dan menggelar festival tabut.

Dampak kedua adalah terbentuknya diplomasi lembut. “Ini bukan hal sepele, tabut bisa membangun soft dipolomasi terhadap tiga negara tersebut bagi kepentingan Bengkulu, Iran itu peradaban tua dan memiliki segudang pengetahuan, bila mereka intens membangun kerjasama dengan Bengkulu, maka negara barat akan mulai memperhitungkan Bengkulu, ini diplomasi politik internasional yang sangat menguntungkan,” sebutnya.

Namun ia mengingatkan sebelum jauh mendapatkan hasil tersebut Bengkulu harus berbenah dengan menjadikan tabut sebagai festival wisata dan budaya yang memiliki hasil mendunia.

“Tapi sekali lagi harus serius perencanaan dan pengelolaannya,” pungkas Prihatno.(kps)