Elegi Menjadi Anjing

Cerpen: Jeli Manalu

Cerpen: Jeli Manalu

Karena bosan menjadi hantu paling manis yang hanya setia menungguimu di sunyinya ranjang kubur, aku menjelma anjing.

Kau berteriak lalu melemparkan daging panggang yang terlanjur gosong dan pahit. Kau mengobrol terlalu lama padahal kompor lupa untuk kau kecilkan. Apakah itu suara perempuan?

Karena mungkin dirasuki perasaan bahagia, setelah menyarungkan ponsel, kau mulai memain-mainkan tubuhku. Menampar-nampar pipiku, mencium harum bulu-buluku yang dalam pandanganku, wajahmu berbeda-beda. Kadang seperti daun-daun sehabis hujan, kadang serperti kelopak kembang sepatu di pagi hari.

Bersama sesosok perempuan yang baru muncul, kau, yang tanpa keempat anak kita, melurus-luruskan permen besar serupa hatiku, coklat warna-warni berbentuk hatimu, gambar-gambar hati tertusuk panah lalu menyulapnya menjadi kotak-kotak kado bertuliskan ‘selamat hari cinta, semoga berjodoh.

“Kita akan membagi-bagikannya.”

“Baik, Sayang.”

Sayang? Perempuan itu menyebutmu begitu? Bukankah hanya diriku yang wajar mengatakan hal-hal senorak itu?

“Molli!”
Kau memanggilku. Aku terkesiap dan berdebar-debar.

“Lihat apa yang kubawa! Kemarilah, teman.”

Di tanganmu terdapat paha-paha ayam berlumur kecap. Satu, dua, tiga … enam potong.

“Selamat hari cinta, ya. Bergembiralah,” kau membelai rambut dan menepuk-nepuk tengkukku.

Terima kasih, Patar. Ini sangat lezat.

Karena telah bertenaga seusai menghabiskan segala, aku mengatur gerak. Menatapmu hati-hati dengan harapan agar kau meluangkan sedikit waktu untuk mendengar seruan hatiku. Bersediakah kau? Kumohon, bersedialah.

Perempuan itu datang ke arah kita. Gaya berjalannya seperti komodo gendut yang kekenyangan. Ia memanggilmu. Sayang! Sayang! Ia juga mengajakmu. Kau begitu bersemangat—padanya. Sedang aku? Kata-kata mendesak yang gagal meloncat ini semoga memahami situasi.

Jemarinya memeluk jemarimu, darahku didih. Ia cium tanganmu, dadaku jadi sasana tinju. Dari petinju antar kampung yang tak tahu aturan sebab berebut gadis dari kampung seberang hingga petinju antar mahasiswa yang sok hebat dan tak tahu malu.

Aku mengomel. Mengomeli masa lalu.

“Molli, tenanglah, kawan! Kami tidak akan lama.”

Oh, Patar, dengan cara apa kujelaskan bahwa menunggu itu adalah pekerjaan yang paling menjemukan. Bukan, bukan! Menunggu bukanlah pekerjaan. Menunggu merujuk kepada situasi berdiam dalam pikiran yang keluyuran sedang pekerjaan adalah sesuatu yang harus kau giati dengan cara bergerak.

Menunggu sudah pasti mengeriputkan. Menunggu juga mengubankan. Menunggu itu…. Aku baru paham kalau menunggu itu merupakan sebuah kemalangan yang hanya ditekuni oleh orang-orang waras dan cara paling mutakhir dalam mencemasi waktu yang tiada ujung. Tunggu, aku pasti datang! Padahal lupa janji sebab dilupai oleh tunggu-tunggu yang lain.

Tunggu satu jam lagi ya! Padahal jalanan sudah macet, anak tiba-tiba merengek, hujan buru-buru turun, seseorang menelepon hingga bermohon-mohon agar kau mengirimi sejumlah uang dengan segera karena istrinya sedang sekarat dan jika uang itu tidak ada, maka, bisa saja nyawanya tak terselamatkan dan kau akan merasa sangat bersalah.

Untuk itu akan kukerahkan segenap kecepatan terbaik. Aku berlari ke ujung gang namun yang kudapati hanyalah pantat mobilmu yang membuang kentut berwarna hitam. Meski seluruh kekuatan kukucurkan di bagian kaki, meski segenap pikiran tercurah akanmu—aku, pada akhirnya lebih merasa bersalah dari perasaan bersalah itu sendiri.

Tak berapa lama, sebab pulas dibuai lagu-lagu lambat yang diputar kuat-kuat oleh tetangga, Aku Bertahan-Rio Febrian; I’m Sorry Good Bye-Krisdayanti—aku tak menyadari kalau kau telah kembali.

Kau menuntunku ke cermin besar yang terletak di sebelah pintu utama. Rupa-rupanya kau sedang memberiku kejutan. Aku terharu. Benara-benar terharu. Sebuah kalung meliliti leherku. Kalung indah dengan sepasang lonceng yang dapat berbunyi secara otomatis ketika aku bergerak-gerak. Ini luar biasa. Aku menyukainya. Terima kasih, Patar. Terima kasih. Aku…. Aku menyayangimu.

Perasaan tulus itu sudah kuutarakan padamu, maka aku akan membuka mata. Jantungku berdetak kencang, kau tak kudapati. Aku berlari ke pekarangan. Mencarimu di rumah mobil, di dapur bahkan di ruang rekreasi. Tapi tiada. Lalu aku mendengar suara perempuan dari arah kamarmu. Aku mendekat. Kurapatkan telinga ke pintu. Oh, itu juga suaramu.

Aku mencuri dengar yang dalam samar-samar, kutebak, ada hal membahagiakan di dalam sana. Akan kugedor pintu ini, kudorong, dan segalanya terlihat. Tapi toh tak kulakukan. Sebuah perasaan tidak enak menahanku untuk itu. Tidak sopan mengetuk-ngetuk di atas pukul sepuluh!

Ketika hari tak lagi gelap, aku tak mendapati perempuan itu. Hanya kau yang mendiam di kubangan sepray serta selimut. Kukurungkan niat saat berkeinginan membangunkanmu. Mungkin kau sungguh lelah setelah sepanjang sore menyebar kado-kado dan memilih-milih bunga.

Bagaimana kalau kucari tahu sendiri? Pemikiran yang tak sepenuhnya nakal itu menyusup ke lobang paling dalam di otakku.

Aku mengendap-endap masuk ke kamarmu yang tak tertutup. Kau bergeming. Itu malah bagus. Di atas meja kudapati segelas susu yang entah dibuatkan oleh siapa sebab Bik Runi, orang paling rajin di rumah kita sudah pulang kampung sejak seminggu.

Tiba-tiba ada suara di mulut pintu. Aku menyelinap cepat ke kolong tempat tidurmu.

Aku menerka. Ketika ia bernyanyi-nyanyi kecil, kulebarkan telinga. Huh! Lagu macam apa itu? Tidak bisa dinikmati apalagi diikuti. Hanya tertahan ditenggorokan. Harusnya lagu itu protes. Harusnya lagu itu marah lalu mencekik lehernya.

Ia bergerak ke arah ranjang, aku intip. Ya ampun, betapa tipisnya gaun itu! Apa ia merasa sangat seksi dengan perut sebesar itu?

“Sayang, aku punya sesuatu untuk kau tebak.”
Perempuan itu merebahkan dirinya di dirimu. Kalian berpelukan dan sangat berhasrat. Sebab terlalu senang hingga mencengkeram dadamu, sesuatu yang di tangannya terjatuh. Aku langsung mengigitnya dan melarikan diri.

“Hei, kembalikan!” teriak perempuan itu.

Aku ketahuan. Kurasakan pintu membanting kepalaku.

“Ayo kembalikan!”

Aku tidak mau.

Di benda itu hanya terdapat dua garis kemerahan yang tidak kupahami. Agaknya, perlu keahlian khusus atau seseorang untuk menerjemahkan.

Belum sampai memperoleh bantuan, ia telah menghantarkanmu kepadaku. Aku luluh akan bujukanmu. Setelah puas menjilati tangan dan mengigit-gigit celanamu, kuserahkan benda itu dengan rasa penasaran yang entah itu penting entah tidak.

“Hati-hati, Sayang. Rabies!”

Tahu apa ia soal rabies? Tahu apa ia mengenai diriku? Tak semua binatang seperti kami terjangkit virus itu. Aku adalah anjing seksi yang manis. Perut ramping dan bulu-buluku berkilau. Selalu dimandikan dan diberi vitamin. Semua orang di rumah ini menyukaiku, kecuali ….

Aku terpukul yang tak sakit. Hatiku patah. Paru-paruku dihujani sesak. Aku sudah tak punya rasa malu lagi untuk segera menangis. Kau dan ia saling memeluk. Saling mencium, dan saling-saling selanjutnya. Dan aku hanyalah pengawal santun yang memberi hormat di saat majikan mengunci kamar.

****
Ia mengerang. Kakinya robek-robek. Kulihat air mukamu sangat lain menyaksikan darah yang cecer. Kau pergi sebentar, kemudian tergesa-gesa menghadapku. Sesuatu yang berat dan keras membentur tubuhku. Kepala sekali. Punggung sekali. Pantat berkali-kali lalu badanku terlempar ke batang-batang mawar. Bibirku perih dan ada yang mengucur dari mulut.

Aku sedih dan bodoh. Terusir dari lingkaran suka cita akibat kebodohan sendiri merupakan kebodohan. Bahkan tak ada tempat untuk menyerita kalau diriku tak berniat…, maksudku–lebih tepatnya, bukan aku pelakunya!

Ia yang ugal-ugalan hingga meletakkan piring-piring terlalu ke pinggir. Karena mungkin terkaget melihat kemunculanku yang tiba-tiba, ia menyiku semua piring dan piring-piring itu melukai paha, lutut, betis dan jari-jarinya.

Aku, walau sedikit tidak tertarik padanya, karena memikirkanmu, aku berusaha membersihkan lukanya dengan lidahku. Namun ia marah dan marah-marah lalu terjadilah kesalahpahaman di antara kita.

“Molli!”

Sinar-sinar lampu menombaki mataku. Aku berhenti. Kutunggu sampai mobil-mobil itu hilang. Kutunggu hingga jalanan sunyi. Walau dulu pernah belajar menyeberang denganmu tapi hingga kini aku tak pernah lulus dalam hal itu.

Aku juga takut ketinggian. Kau tahu itu. Ketika ujian di jembatan penyeberangan, aku melihat ke bawah lalu terbayang betapa laju kendaraan satu persatu menggilasi tubuhku menjadi sampah-sampah terbang. Jika ingatanmu terpelihara, aku sering merengek agar kau letakkan di depan perutmu.

“Molli!”

Aku tak selera mendengar apapun saat ini. Tolong jangan mengganggu! Biar kuratapi nasib sendiri. Biar kunikmati betapa tidak eloknya jadi binatang kesayangan yang pada akhirnya terbuang sia-sia.

“Molli!”

Aku terbayang seolah kau akan menjemput. Apa kau mulai mencemasiku? Mengkhawatiriku? Justru, akulah yang sungguh merindukanmu.

“Molli!”

Ah, itu hanya perasaanku saja. Hanya perasaan mengharap yang seakan-akan mendengar harapan.

“Molli! Molli!!!”

Aku melihat ke sisi kanan. Pa-tar? K-kaukah itu?
“Tunggu. Jangan bergerak, Molli!”
Kau memerintah dengan jelas dan tegas. Namun rasa sayang akanmu membuatku takut pada ketakutan. Akan kupeluk kau! Akan kucium kau!

Aku tak percaya dengan apa yang kulakukan. Sinar-sinar lampu kembali menombaki mataku. Mesin-mesin bodoh yang tak berperikehewanan itu memaki-maki. Mesin-mesin angkuh yang tanpa rasa bersalah itu membelingi dagingku. Aku tak peduli. Aku tak peduli. Karena mati membuatku tak kenal peduli.

****
Rengat-Riau, Desember 2015
Penulis: Jeli Manalu, lahir di Padangsidempuan, 2 oktober 1983 dan saat ini berdomisili di Rengat-Riau. Penikmat sastra dan giat menulis cerpen sejak 2016.

gambar-1







Tidak ada kometar

Leave a Reply