Empat Kapolda Dan Balai TNKS Sepakat Perang Melawan Perusak Situs Warisan Dunia

0
Desa Sungai Lisai

Empat Kepala Kepolisian Daerah yang wilayah hukumnya dibentangi oleh hutan warisan dunia Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS) bersepakat untuk memerangi perusak kawasan tersebut dari pencurian kayu, perambahan, hingga perburuan satwa liar.

Hal tersebut tertuang pada nota kesepahaman bersama Penguatan Fungsi Kawasan Hutan Konservasi di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Jakarta, Selasa (14/3/2017). Dalam penandatanganan itu Kapolda Sumsel, Kapolda Jambi, Kapolda Sumbar, dan Wakapolda Bengkulu. Dari pihak kementerian hadir pula Sekjen Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Bambang Hendroyono, Dirjen Gakkum Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Rasio Rida Sani.

Sekjen KLHK, Bambang Hendroyono, mengungkapkan, perihal penandatanganan kesepakatan tersebut sangat penting guna menjaga taman nasional, saat ini Indonesia memiliki 52 kawasan taman nasional salah satunya TNKS. TNKS memiliki luasan 1,39 juta hektare terbentang di empat provinsi Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu, Sumatera Barat, serta Kepala Balai TNKS, Arif Toeng

“Ada 4.000 flora fauna di TNKS, ada 370 spesies burung, serta banyak fungsi konservasi lainnya di dalam TNKS. TNKS itu adalah benteng terakhir hutan yang ada di Indonesia. Kawasan ini harus dijaga oleh banyak pihak, kesepakatan ini menjadi penting,” ungkap Bambang Hendroyono.

Kelakuan para pelaku kejahatan hutan yang saat ini semakin menjadi-jadi sehingga ia bersama instansi terkait, sepalat untuk memerangi illegal logging, hingga perburuan satwa liar. Ia juga tak lupa menyebutkan Pulau Sumatera memiliki catatan baik dalam menyelesaikan persoalan kerusakan taman nasional, serta ada beberapa wilayah hutan yang masuk dalam katergori hutan yang telah mencekam perihal kondisi hutan yang pada dasarnya sebagai komponen komplit dari setiap ekosistem yang ada didalm Hutan.

“Taman Nasional Tesso Nilo sebagai contoh cukup memprihatinkan, namun desain penyelesaiannya dilakukan oleh Ibu Menteri dengan Gubernur Riau berbasiskan Daerah Aliran Sungai (DAS). Tesso Nilo rusak oleh perambahan pasca adanya Hak Pengelolahan Hutan (HPH), kebun sawit,”katanya.

Disamping itu Kapolda Sumatera Selatan(Sumsel), Irjen Agung Budi M, mengungkapkan, kesepakatan tersebut sangat diperlukan guna menyelamatkan kawasan TNKS untuk mempermudah koordinasi dan penerapak tindakan di lapangan, ini dilakukan lantaran beberapa ada beberapa jenis flora dan fauna yang menajadi target para pelaku kejahtan lingkungan.

“Tingkat kejahatan pengerusakan hutan, lingkungan hidup, hingga satwa liar harus dihentikan, kami pernah mengamankan kangguru yang dibawa di dalam bis, menangkap pelaku penjualan 8.000 kepiting tapak kuda yang hendak dikirim ke Malaysia,” ungkapnya.

Perihal adanya kesepakatan ini,Ketua Umum Mahasiswa Pecinta Alam Fakultas Sosial Politik (PALASOSTIK)  Unib,  Edip Suyono mengatakan bahwa dengan adanya kesepakatan ini ia harapkan kedepanya kondisi Taman nasional bisa kembali aman, dan keberadaan TNKS terjamin jauh dari aksi pembalakan dan pengerusakan, ini ia katakan lantaran Palasostik telah dua kali memasuki wilayah TNKS di Desa Sungai Lisai Kabupaten Lebong.

“Kami beberapa waktu lalu memasuki wilayah TNKS dan kita lihat apa yang terjadi disana memang masih cukup baik, dan dengan adanya kesepaktan ini, kita harapkan TNKS tetap terjaga,” (Rilis/nvd)

Leave A Reply

Your email address will not be published.