Fragmen Kehidupan

Ilustrasi The Minneapolis Institute of Arts

Ilustrasi The Minneapolis Institute of Arts

Cerpen: Benny Hakim Benardie

Dinginnya Kota Bogor pada malam itu hingga menusuk sendi-sendi  tulang.  Berlahan curah hujan beransur reda, seiiring terdengarnya lantunan ayat-ayat Tuhan dari dinding kamar sebelah Motel, yang mengalun dan mendayu-dayu.

Ersa malam itu tak bisa tidur. Beberapa kali selimut tebal tercampak jatuh dari tempat tidurnya hotelnya, diambil lalu dikenakannya kembali. Ia tampak resah, gelisah tak tentu khayalnya.

“Andai saja ah…..Sudahlah,” ucapnya berlahan.

Diambilnya jaket yang digantungya di balik almari, Ersa keluar menuju serambi Motel de ngan menenteng satu majalah yang disampul depannya tertuliskan “Freedom My Love”.

Saat dibukannya halaman delapan majalah itu, dahi Ersa tampak berkerut melihat tulisan yang menceritakan, bagaimana seseorang yang bersikap dan bertindak dalam menghadapi persoalan hidup.
“Bergerak dengan mendapat dosa, lebih baik dari pada diam  mendapat pahala,” sebut artikel di Majalah itu.

Tatapan Ersa tak bergeming, meskipun pikirannya menerawang jauh  ke Kota Bengkulu. Tersentak lamunan buyar saat seekor nyamuk mengigit ujung jempolnya.

“Ih…Dasar binatang. Udah mau subuh masih ada aja,” gerutu Ersa langsung berdiri pergi kembali kekamarnya. Ersa kembali berusaha masuk dalam selimut dan mencoba memejamkan matanya. Baru saja mencoba tidur, Ponselnya berdering.

Lama Ponselnya dibiarkannya, melihat nomor yang menelepon tak ada dalam daftarnya. Namun Ersa  tetap saja ragu, takut kalau yang menelepon adalah Salim suaminya yang kini lagi di Belanda.

“Ah…..Penelpon sial, menganggu orang mau tidur aja,” keluh Ersa sembari meletakan Ponselnya dibawah bantal. Deringan itu terus menggangu telinga Ersa.

“Siapa sih…..Helloo…Hello, siap nih? Eh Bang Beben,” kata Ersa langsung berubah mengambil posisi duduk nyamannya.

“Kok lama diangkatnya sayang?” tegur Bang Beben.

“Maaf bang…Habisnya nomor yang terdaftar sih. abang sih pakai gonta-ganti nomor segala…..Iih abang nih,” ujar Ersa tampak meringis manja.

“Namanya pengusaha say…..Biasalah jangan sampai ketahuan sama yang itu. Say…..Abang kangen buanget nih! Suamimu sekarang dimana?”

Rupanya Abang Beben yang nelepon itu merupakan selingkuhan Ersa yang sudah lama tidak ngontak, sejak pindah tugas dari Kota Bengkulu ke Jawa tengah. Lontaran manja sempat beberapa kali terdengar menggelitik hati, menggetarkan hasrat. Sementara lantunan ayat-ayat Tuhan kian senyap dikeheningan malam.

Dari balik jendela, terlihat bayangan hitam sekelebat hilang, entah siapa itu.  Sementara malam mengiringi tidur indah Ersa, yang akan bertemu Bang Beben sore ini.

“Ah Ayang beb, ja..Jangan ah,” teriak Ersa ngelindur.

Temu Kangen
Pagi-pagi buta, Ersa sudah rapih dan berdandan cantik, dan siap menuju Bandara Sukarno Hatta, Tangerang Provinsi Banten. Jantung berdebar namun hati berbunga-bunga, tak terelakan dari raut cantik Ersa, meskipun dibalik kerudung putihnya.

“Untung berangkat pagi ya  Pak! Macet begini  memang sampai pukul berapa,” kata Ersa dengan sopir Taxi yang serius mengendarai mobilnya.

“Sampai pukul 4 sore Nyoya,” jawab Sopir tanpa menoleh.

Ersa berkali-kali mengaguk-angukkan kepalanya. “Untung……Untung,” pikirnya sembari tersunging senyuman centilnya.

Sekira empat  jam waktu berlalu, akhirnya Taxi yang membawa Ersa tiba di pintu bandara. Hari baru pukul 11.03 WIB. Sementara janji Bang Beben tiba pukul 03.20 WIB.  Tapi sisa lama waktu itu tak menyurutkan waktu Ersa untuk menunggu.

Hingga jadwal pesawat tiba, Ersa bergegas menuju ruang  tunggu dengan perasan yang gimana ghitu. Ada rasa senang, rindu hingga perasaan geli-gelipun  menghibur perasaan dalam penantian itu.

Selang beberapa saat, seorang bertubuh tegap berkaca mata hitam  tersenyum dengan melambaikan tangannya kearah Ersa. Karena tak tahu, sikap cuek, ia melanjutkan menggigit kuaci yang dibelinya di swalayan tadi.

Ternyata orang berkacamata hitam itu adalah Ayang Beb yang di nantikannya. “Bang Beben,” teriak Ersa mengagetkan orang sekeliling ruang tunggu bandara. Pelukan rindu mereka berlangsung lama, bahkan Ersa sempat menitikan air mata riangnya.

“Ersa, makin cantik aja udah dua tahun nggak ketamu ya?”

“Abang bisa aja, jahat ih dah jarang telepon Ersa. Ersa kan kangen. Eh ingat ngak kejadian diruangan itu he he he,” tanya Ersa manja.

“Ssst banyak orang”.

“Eh mana barang Abang,” tanya Ersa bergelendotan di tangan Ban Beben.

“Ada, lagi diambil teman, yang sekalian bareng kesini,” katanya.

Mereka tampak melepas rindu di bangku tunggu, kepala Ersa merebah di bahu kiri Beben.

Teman itu Suamiku
Setengah jam berlalu menunggu, akhirnya teman Beben datang, sementara Ersa masih tak perduli dan tetap menaruh kepalanya di bahu Beben, sembari meremas tangannya.

“Ben, nih barangnya, ayo cabut kita,” kata temannya.
Eh bro….makasih ya, maaf lama, biasalah,” kata Beben mengedipkan matanya kearah temannya. Nih kenalkan,” katanya.

Bakdisambar Petir disiang bolong, mata Ersa dan temannya Beben bertatapan. Ternyata temannya itu adalah Salim, suaminya Ersa.  Gugup Ersa, bingung beben melihat tingkah Ersa dan Salim yang mulai bicara gagap.

“Pa…pa papa,” kata Ersa suara serak.

Dilepaskan pelukannya dari beben, dan Ersa berlari kencang menuju keluar Bandara Sukarno Hatta.

Salim tampak diam termanggu, dengan tubuh bergetar kaku. beben tampak binggung. Tak berapa lama, satu pukulan kemuka menghantam Beben hingga ngejomlang jatuh. Saat akan mendapat serangan berikutnya, tiga aparat keamanan menangkap gerakan Salim, dan mengamankan mereka dua sekawan itu.

Saat diamankan pengamanan bandara, barulah semuanya terungkap. Beben tampak pucat pasi dan sedikit meringis kesakitan, meskipun mereka didamaikan petugas, mereka akhinya berpisah, putus perkawan.

Dengan alamat Motel yang diberikan Beben, Salim bergegas mencari Isterinya. Motel itu ketemu, namun isterinya sudah tidak ada lagi dikamatnya. Salim mencoba  bertanya pada siapa saja yang ada di Motel, namun tidak satupun yang tahu.

Hingga Akhirnya Salim memutuskan untuk pulang ke Kota Bengkulu esok harinya, dan menginap dikamar tempat Ersa menginap. malam itu Salim penuh rasah amarah sambil menanti pulang siang esok.

“Tok…tok…tok,” suara pintu diketuk. melompat dari tempat tidurnya, ternyata seorang perempuan seksi yang menawarkan diri menemaninya dikamar.

Dalam perasaan kesal campur aduk, tawaran itu diterimanya. Perempuan itu menemani Salim hingga adzan berkumandang, dan perempuan itu tersentak bangun, ingin pamit pulang. Beberapa uang warna merah keluar dari dompet Salim.

“Makasih ya dek nemenin malam ini,” kata Salim sumringah.

“Ya Kang. samik-samik. Kontak wae aing nyak, kalau perlu,” kata itu perempuan memberikan nomor ponselnya.

Hari itu Matahari  memang tidak bersinar dikota, namun mendung mulai menampakan gelagatnya.  Seperti biasanya sembari ngopi, Salim biasa membaca berita melalui Ponsel androidnya. Kaget, saat ia melihat Ersa isterinya diberitakan tewas ditabrak mobil dan meningal dunia.

Dimatikannya Ponselnya,  diambilnya tas dan memutuskan urung kembali ke Kota Bengkulu. Salim memilih kembali  ke Jawa Tengah ketempat isteri simpanannya.

memang, rencana awalnya  mau bersenang-senang di Kota Bogor bersama temannya, Beben, malah terkuak semua fragmen kehidupan isterinya.

Kematian Ersa tak dihiraukan Salim. Meskipun melangkah gontai, namun Jawa Tengah kembali menjadi pilihannya  dan hitamkan  untuk pulang ke Kota Bengkulu.

Ersa kabarnya di jemput keluarganya pulang ke Kota Bengkulu, dengan informasi meninggal akibat kecelakaan dalam menjalankan tugas sebagai pejabat publik. Sementara Salim tak dapat di kontak, dan hilang begitu saja. Hingga 15 tahun  berlalu, diperoleh kabar,  Salim tewas akibat di bunuh oleh isterinya, akibat ketahuan berselingkuh.

Penulis dan jurnalis  

Tidak ada kometar

Leave a Reply