Gerakan Perempuan Penyelamat Sungai Padang Guci

Kaum Perempuan Ikut Mencegah Kehancuran Sungai Padang Guci

Kupasbengkulu.com – Sekali waktu udara terasa panas,pantulan cahaya dari teriknya matahari mengenai balau (tombak) dan samurai memakasa mata berkedip menahan silau. Belum lagi rau-raut wajah kesal, suara graham yang beradu, menambah suasana menegangkan pada sebuah tanah kosong di desa Talang Jawi II Kecamatan Padang Guci Hilir Kabuapaten Kaur.

Sebuah rapat akbar yang dilakukan oleh kerumunan masa di ┬áKecamatan Padang Guci Hilir mengenai aktivitas penambang Pasir Batu (SIRTU) atas nama WAHYATI dan Rosismaini di sebuah sungai yang mereka sebut sungai ” Air Padang Guci”. Keberadaan sungai Air Padang Guci menjadi kunci penting bagi kehidupan dan perekonomian masyarakat di kecamatan Padang Guci hilir dan Kecamatan Padang Guci Hulu.

Tidak hanya sebagai sumber pengairan bagi ribuan Hektare areal persawahan, Sungai Air Padang Guci juga digunakan sebagai penopang kehidupan masyarakat yang bermukim di Kecamatan Padang Guci hilir, ini karena kebutuhan sehari-hari masyarakat seperti mandi dan air minum juga bergantung dari aliran sungai.

Dengan Panjang sekira kurang lebih 30 km dari hilir ke hulu bisa dibayangkan betapa pentinya sungai ini bagi kehidupan mereka. Oleh karenanya keberadaan sungai padang guci sangat memiliki keterikatan kuat antara masyarakat dan Aliran sungai Padang Guci.

Akan tetapi saat ini areal persawahan seluas kurang lebih 600 Ha terancam tak bisa dilakukan aktivitas penanaman dan lebih kurang lahan seluas 2000 Ha telah ditinggalkan oleh pemiliknya lantaran tak lagi dialiri oleh Air Sngai Padang Guci, diduga lantaran beroperasinya dua Penambang Sirtu di sekitar aliran Sungai Padang Guci.

Selain kepercayaan masyarakat yang mengibaratkan sungai padang Guci mampu memahami kehidupan masyarakat dan tak ingin ada persoalan di kecamatan tersebut. Maka hal ini yang paling dikhawatirkan oleh ratusan masa yang berkumpul di lapanagan talang Jawi.

Diantara ratusan kerumunan masa yang bersenjata lengkap untuk melakukan rapat akbar, seorang perempuan bernama Risnili memiliki perawakan kecil ini tampak dengan jelas raut wajah yang kurang bersahabat lantaran kesal dengan aktivitas penambang Sirtu di aliran sungai padang Guci, mengatakan jika apa yang dilakukan oleh masyarakat di kecamatan padang guci ini sebagai simbol perlawanan atas pihak pemerintah yang terkesan abai dengan mereka.

“Saya siap untuk semuanya asal kita tetap satu kita perempuan juga harus melawan Sungai ini adalah kebanggan kita!” teriak Risnili.

Kekeksalan masyarkat di Kecamatan Padang Guci Hilir ini bukan tak beralasan, selain alur sungai yang telah banyak berubah areal persawahan yang kacau balau diduga atas beroperasinya Penambangan Pasir Batu, lalu masyarakat di Kecamtan Padang Guci Hilir ini seperti tak mendapatkan perhatian dari pihak pemerintah lantaran banyak membiarkan aktivitas yang dalam perhari armada pengangkut material. Sehingga jalur transportasi di Kecamatan Padang Guci Hilir sepanjang 4Km telah mengalami kerusakan, bahkan lantaran kerusakan jalur transportasi tersebut tak jarang menimbulkan korban kecelakaan, oleh karena itu akhirnya masyarakat di padang guci hilir ini sepakat untuk berserikat agar amarah sungai padang guci tak menjadi – jadi.

Air Sungai Padang Guci yang memiliki karakter unik ini melambangakan watak masyarkat padang guci yang terkenal keras, sama seperti halnya kuatnya arus sungai Padang Guci yang dikabarkan mampu mendorong ombak di lautan.

“Kita bisa lebih lembut pada semua orang jika orang itu lembut, tapi jika orang kasar maka kami pun demikian, ibaratnya sungai padang inikan alirannya deras, liat ke muara ombak saja terdorong kalau kita perhatikan sangking derasnya arus ini kira – kira seperti itu,” katanya

Lalu sebelum rapat akbar ini berakhir, ratusan masa ini sepakat untuk menghentikan aktivitas pengangkutan pasir batu, jika nantinya pihak pemerintah masih memberikan izin operasi yang dilakukan ini tentunya akan berdampak buruk bagi kehidupan masyarakat.

“Kita sepakat tidak ada aksi anarkis kita lihat pemerintah lebih memilih siapa,” katanya

Dari Pemegang IUP yang didapat atas beroperasinya dua QUARY di wilayah Desa Ulak Agung Kecamatan Padang Guci Hilir Kabupaten Kaur Provinsi Bengkulu atas nama WAHYATI berdasarkan Surat Keputusan Kepala Dinas ESDM Provinsi Bengkulu Nomor 185 Tahun 2015 tanggal 16 November 2015 dengan masa berlaku hingga 16 November 2018 serta untuk QUARY Rosismini Berdasarkan Surat Keputusan Kepala Dinas ESDM Provinsi Bengkulu Nomor 239 Tahun 2016 tanggal 14 Juni 2016 dengan masa berlaku hingga 14 Juni 2019. Pertahunya tercatat pada dokumen UKL dan UPL salah satu QUARY ini mengangkut material dari sungai Padang Guci sebanyak 64.500 m3.

Sebelum rapat akbar ini dilakukan oleh masyarakat di Kecamatan Padang Guci ini telah terlebih dahulu melakukan aksi demo di wilayah operasi kedua QUARY tersebut dan hasil kesepakatan pun aktivitas kedua QUARY tersebut dihentikan sementara, namun akhirnya QUARY tersebut kembali beroperasi hingga masyarakat akhirnya sepakat untuk menggelar rapat akbar sebagai manifestonya dari tidak tegasnya pemerintah yang kembali membuka QUARY tersebut.

 

Anggi Noverdo

Tidak ada kometar

Leave a Reply