Girik Cik: Ah

By: Cik Ben
Dua malam lalu awak  bermimpi sedang berada di kapal Kapal laut uap Benkoelen  yang dibuat Belanda bulan November 1921. Kapal kedua yang mengunakan Bengkulu, dimana jauh sebelumnya  ada  kapal buatan Inggris bernama Bencoolen  yang kandas Pantai Summerleaze pada Tahun 1862.
Jangan hiraukan berapa nilai kapal itu, bila ingin membandingkan dengan nilai kebanggaan anak negeri dari nama kapal yang pernah ada.
Awak melihat dalam mimpi itu, awak dihormati.  Penumpangnya dari orang pilihan, pekerja kapal hingga pelayan pribadi kapal merupakan orang profesional. Kapal Uap Benkoelen itu arungi lautan lepas. Badai dan gelombang besarpun dapat di kecohinya. Tapi Kapal Benkoelen itu tak mampu berkelit, hadapi tajamnya batu karang yang mempu merobek dan mencabik-cabik badan Kapal Benkoelen. Padahal itu hanya unggukan kecil batu karang.
Entah kenapa Nahkoda kapal bisa tak ekstra waspada. Yang yang Awak lihat kala itu, sekelompok kecil penumpang sudah merapat ke kabin-kabin penumpang lain, termasuk ke kabin Nahkoda Kapal Benkoelen untuk bersiap menjarah apa yang ada. Belum jelas siapa dan kelompok mana mereka.
Saat kapal menghantam batu karang, para penjarah itu kok tambah banyak ya? Padahal security Kapal Benkoelen tahu  gelagat awal para penumpang nakal itu. Tapi mereka tetap menatap, terbentur sistem  dan situasi yang ada.
Sekelompok kecil penumpang gelisah melihat keadaan yang mulai kacaubalau. Ingin nyebur ke laut, pelampung dan sekoci sudah dikuasai para pencoleng tadi. Bila diam, mereka dapat dipastikan akan hanyut tanpa arah, hingga terdampar tanpa logistik.
Solusi yang jitu diambil adalah berusaha menanggalkan dinding geladak kapal untuk modal berenang ketepian. Tak hirau lagi mereka akan risiko Kapal Benkoelen akan bocor lambung dan akan menjadi rumpon di dasar laut.
Berhari-hari berupaya, ternyata pasak kapal dan damar perekat kayu ternyata sudah membatu. Susah ditanggalkan. Sembari berupaya, mereka berkhayal  dan berharap kapal segera merapat ke pantai.
Awak dalam mimpi itu juga tidak bisa menjadi pahlawan Selain melihat, mengamati dan mengeleng-gelengkan kepala.  Tak ada yang berani menjadi pahlawan, selain seorang nenek-nenek tua bongkok yang diborgol pergelangan tanggannya, saat melintas membawa barang curian milik Nahkoda Kapal Benkoelen.
Aku tersentak bangun dengan pipi yang basah bekas air mata saat mimpi, melihat nahkoda kapal gugup saat kekacauan dimulai, hingga unggukan kecil batu karang menghadang tak bisa dipastikan lagi olehnya dihantam.  Satu-satunya yang terus mencoba,  agar nahkoda tak terlalu gugup adalah bininya. Dia  selalu ikut setiap suaminya berlayar.
Air asin kian memenuhi Kapal Benkoelen. Teriakan mulai tak tentu maksudnya lagi.  Aku hanya bisa melihat akhir kisah tragis itu dengan tatapan tanpa kekuatan. Nahkoda dan bininya itupun akhirnya tenggelam. Saat  awak duduk ingin bergegas bagun dari tempat tidur, awak hanya bisa bilang, “Ah….Ini hanya mimpi saja. Tapi air mataku bukan mimpi”.
The post Girik Cik: Ah appeared first on kupasbengkulu.com.