Jalan Hampa

“Kita sedang menuju jalan pulang”, kata-kata yang selalu diucapkan Isan acap kali bertemu denganku di musolah, satu-satunya tempat peribadatan yang memang tak pernah di idamkan oleh para manusia-manusia milenial.
Musolah berukuran 10 kali 15 meter ini asal mulanya didirikan oleh seorang mualaf keturunan Cina,  pada Tahun 1999 masa pergerakan  Orde Baru. Seiring perkembangannya dari tahun ke tahun, bangunan dengan bercorak kelenteng itu berubah fungsi sebagai tempat beristirahat, berteduh dan sebagai persinggahan semata. Hanya segelintir orang yang masih mengindahkannya sebagai tempat peraduan menatap Tuhan.
Oleh: M BisriDi kampung kami, hanya musolah inilah yang menjadi satu-satunya tempat ibadah, karena memang posisi kampung ini sudah bisa dikatakan terisolasi oleh keramaian dan hiruk-pikuk ibu kota, gedung-gedung pencakar langit, pabrik-pabrik tekstil, infrastruktur jalan dan segalanya yang berkenaan dengan wewenang kepala daerah.
“Ya. Memang saya mau pulang”,  celetuk lelaki berperawakan kurus dengan pakaian yang selalu rapi. Direnggangkannya kerah baju seperti tengah kegerahan.
“Bukan. Bukan itu maksudku”.
“Sudahlah, San. Ini bukan waktunya kamu ceramah. Saya sedang pusing, dari pagi tadi tidak selesai mengurus berkas kependudukan. Toh, kemarin, sebelumnya, dan entah esok kau bakalan terus mengatakan demikian padaku, tetaplah sama jawabannya. Aku sedang tidak peduli. Urusan dunia saja tidak ada habisnya, mau kamu tambah urusan akhirat. Nanti saja, kalau saya sudah kaya”, ketus Fahri sembari berlalu dari pandangan lelaki berusia setengah abad itu.
Isan seakan dirundung gelisah. Puncaknya adalah ketika dia dalam keadaan sendiri, di manapun, kapanpun. Matanya selalu terbelalak mengawasi keadaan sekitar. Seperti dihantui rasa takut. Tertekan. Dia selalu mengurung diri di musolah.
Suatu ketika ia pernah hampir saja mengalami kecelakaan fatal. Ketika dalam keadaan berkendara, waktu itu, matanya justru memandang kosong ke depan tanpa hirau lagi bahwa ia sedang berhadapan dengan mobil truk. Namun begitu enggannya maut mempercepat pengadilan pada sosok lelaki yang tengah dilema kegelisahan.
Tidak sekali dua kali Isan menghadapi maut. Entah mengapa ia selalu saja selamat. Seperti halnya sedang dilindungi, sekaligus diawasi malaikat maut tapi tidak buru-buru dijemput. Beberapa pertanyaan keluar masuk menghampirinya.
“Bagaimana sampean bisa selamat, Mas. Padahal selang beberapa detik saja, kereta itu sudah bisa dipastikan memisahkan kepala dari badane sampean. Tapi, waallahi, sampean malah melongos kayak baru saja bangun tidur”. pertanyaan konyol Anjas kala menyaksikan sendiri kejadian yang menimpa sepupunya.
Tanpa jawaban, Isan berlalu dengan acuh tak acuh. Pertanyaan-pertanyaan lain menyusul. Hanya saja beda kajian, dan jawabannya sama, “Kita sedang menuju jalan pulang,” sampai kesalnya, sekumpulan orang di pasar yang bersebelahan dengan lapaknya nyeletuk, “Sampean kui edan, yo, mas. Gemblung. Jalan pulang, jalan pulang, memangnya sampean itu nyasar atau bagaimana?”
Tak sampai di situ, gerak-geriknya beberapa hari terakhir sangat hati-hati. Ibarat sedang menenun kain sutra, atau tengah menyebrang jembatan sidratul muntaha. Semua penuh perhitungan kala ia dihadapkan mengenai persoalan ibadah dan berbicara dengan orang lain yang mulai diasingkannya.
Jalannya ia batasi. Telinganya, Bicaranya tidak lain hanya menekankan jalan pulang. Tatapannya perlahan kosong. Kemarin saja, ia bercerita dengan mata berbinar-binar, seolah hendak meneteskan air matanya dengan leluasa. Kepada siapapun yang ia percaya. Terutama kepadaku.

Pagi ini, Isan kembali padaku dengan terburu-buru serta gestur tubuh yang terlihat gemetaran. Wajahnya seperti mayat; pucat pasi.
“Kau kenapa, San. Puasa? Atau belum makan selama lima hari?” Tanyaku dengan sedikit intonasi gurauan.
Pandangannya berapi-api ketika aku menepuk pundaknya. Seperti menemukan jalan pulang, ia segera menghasutku untuk ikut menjalankan ibadah salat Mahgrib. Ku ikuti saja langkahnya. Toh, pekerjaanku tinggal sedikit lagi.
“Azan, Mas?” Tawarnya kepadaku. Aku mengangguk. Aku lebih suka mengumandangkan azan ketimbang harus jadi Imam salat. Bebannya lebih berat. Dan juga, aku tidak bisa khusyuk memikul amanah dari para jemaah walau entah ada atau tidak yang akan datang melaksanakan solat.
Meski hanya segelintir saja yang melaksanakan salat jemaah setiap harinya, aku tau persis, masyarakat di sini, sekitar pasar dan terminal, lebih suka mengindahkan bacaan ayat dengan intonasi nada yang menyayat.
 
 
Segera kudengingkan lantunan azan dengan lantang dan ikhlas. Nyatanya, panggilan salat itu lebih mujarab ketika dilantunkan dengan ikhlas dan lepas dari kalbu kita. Ajakkannya begitu pasrah namun indah dimaknai.

Setelah solat Mahgrib usai, segera kutanyakan niatan Isan mengajakku ke musolah. Apakah masih dengan kalimat-kalimat seperti sebelumnya, atau ada yang lebih manuver lagi dari sekedar igauannya.
“Coba kau perhatikan orang yang hiruk-pikuk ngurusi kesibukkannya sendiri. Ada keganjalan yang mesti dilenyapkan di sini. Kemurtadan, kekafiran orang-orang itu, kebabuan manusia diperbudak oleh hingar-bingar dunia dan lebih mengutamakan ketamakkannya dari pada harus solat, taat beribadah, dan menghamba”.  Sebuah kalimat yang patut kupertimbangkan keseriusannya. Jangan-jangan, dia mau bersikap anarkis dengan nada sinisnya seperti itu.
“Fahri, apa yang terpikir olehmu ketika kamu punya anjing, tapi setelah diberi makan dia malah menggigit, dan memberontak layaknya hewan liar?” Pertanyaan konyol yang Isan sampaikan tak serta merta kujawab.
“Maksudmu, kau sedang sakit, mengigau atau apa, San? Kau tau aku tidak punya anjing dan tidak mungkin mau mempelihara hewan semacam itu”.
“Aku sehat, Ri. Kan, tanyaku adalah misal, sebuah umpama yang aku diksikan pada orang-orang itu. Kau tidak akan pernah terima jika anjing yang sudah kau beri makan dan kau pelihara  sampai besar malah balik menggigitmu. Begitupun Tuhan, kuharap kau tau maksudku. Kita sudah sepuluh tahun berjualan di sini.
Pasar yang jadi tempat jual beli, transaksi dengan konsep halal yang justru sebaliknya membalikkan keadaan orang-orang itu kufur. Kau lihat tadi, berapa orang yang mau solat di antara kita. Setiap harinya?”
“Ya, hanya tiga orang. Lantas?” Tanyaku semakin bingung dan cemas.
“Lantas, bagaimana kalo kita kembalikan keadaannya seperti semula”. Aku tahu maksud dan tujuan Isan, dan harapan terbesar adalah, semoga bukan seperti yang aku pikirkan. Aku berkilah dan mengalihkan pembicaraan. Namun Isan bersikeras kembali kepada masalah awal, tujuan dia membawaku kemari.
“Sudahlah, San. Aku sedang sibuk. Hari ini aku ada acara dan juga aku harus segera membereskan daganganku. Maaf, mungkin lain kali kita ngobrol lagi”.
Aku berlalu, dan kulihat dia dengan tatap kecewanya kembali memasuki musolah itu. Jarak antara pasar dengan musola hanya terhalang oleh gapura, pintu masuk pasar.
——
Malam itu aku buru-buru kembali menuju pasar setelah teringat bahwa ada yang tertinggal di dalam lapak ukuran 4 kali 5 meter. Pukul 10 malam, di mana biasanya pasar masih terlihat keramaiannya. Entah sampai kapan pasar akan berhenti sejenak, sepi.
Sedikit buru-buru, belum sampai setengah perjalanan langkahku terhenti oleh suarana sirine yang meraung-raung. Ada beberapa unit mobil pemadam kebakaran melewati langkahku.  Sekitar 3 mobil yang semuanya menuju ke arah bersamaan.
Aku berlari menimpali raungan sirine yang berubah haluan menjadi kecemasan. Dari jauh tampak seperti ada cahaya yang menggeliat memecah kegelapan malam. Raungan sirine berubah menjadi dua kali lipat dari yang kutemui sebelumnya. Berjarak 200 Meter dari tempatku terengah-engah, kobaran api terlihat memaparkan cahaya jingga pekat di atas pasar. Aku segera menggapai arah tujuanku. Dan benar, sudah hampir tak terlihat lagi hamparan pasar dengan atap-atap rimbun yang berdempetan.
Tak kulihat lagi gapura kokoh dengan papan bertuliskan ukiran timbul “PASAR BAROKOTOK” karena memang sudah lebih dulu habis terlalap api. Dan betapa kagetnya, ternyata sumber api berasal dari musola yang sama ketika aku melaksanakan solat Mahgrib tadi. Hal ini berdasarkan pengamatanku, karena api lebih dulu menghabiskan musola, gapura, dan bagian depan pasar, hingga kini sudah hampir merobohkan bangunan terakhir pasar.
Kobaran api dengan raungan sirine berkolaborasi suara isak tangis para pelapak karena tak sempat menyelamatkan barang dagangannya. Sebagian masih dengan semangatnya memadamkan api yang nyaris tidak mungkin padam. Semakin disiram air, semakin membesar api yang terlihat.
Aku hanya terpaku di tempatku berdiri. Hendak jatuh tak kuasa memapah badan yang mulai berat lantaran semuanya terpikir kepada barang dagangan yang bukan miliku, akupun harus merelakannya habis dilalap api keduniawian. Kehilangan mata pencaharian dan habis bersama abu yang tersisa.
Sejurus kemudian, bayanganku teringat kepada Isan dengan tutur kata ancamannya, bahwa ia akan membalikkan keadaan yang ternyata tepat pada persepsiku atas dugaan tersebut, ia akan bertindak bodoh lebih bodoh dari orang-orang yang berada di pasar pada saat itu. Aku segera berajak mendekati lokasi musolah yang sama sekali tidak ada sisa di sekelilingnya. Aku mengorek dengan hati-hati, mencari-cari jejak keberadaan Isan dengan harap ia tak mengorbankan dirinya di antara abu-abu yang tersisa. Api yang sudah lebih dulu padam, tidak membuatku khawatir akan terluka bakar.
Kusingkapkan karpet yang terbakar dan kulihat dengan mata kepalaku sendiri jasad yang tampak seperti membungkuk sujud, kaku. Ya, dia memang Isan. Air mataku spontan jatuh dan tak terendung lagi. Bagaimana mungkin orang baik seperti Isan dengan tega membakar pasar dan seluruh isi yang ada melewati bangunan musola ini. Bagaimana mungkin? Ya, bagaimana mungkin orang yang tengah sujud, membakar isi musolah dengan cara demikian dengan tanpa satupun alat.
Selama ini, tak kulihat Isan merokok dan membawa-bawa korek api. Begitupun di musola yang memang tak ada satupun tersedia pematik. Arus listrik? Ah, tidak mungkin juga, apalagi dengan instan api yang berasal dari tegangan listrik membakar dengan cepat seisi  musolah. Segera kucari-cari  petunjuk yang bisa membuatku paham. Atau cukup dengan praduga; “bahwa Isan dan musolah,  memang niat dibakar?”
Bengkulu,  September 2018
 
The post Jalan Hampa appeared first on kupasbengkulu.com.

Loading...

Comments are closed.