Keajaiban Pernikahan

sulisCerpen: Sulistiyo Suparno

Lima tahun menikah, Reyna dan Herman belum memiliki buah hati. Mereka sepakat untuk berpisah. Kesepakatan yang damai. Mula-mula mereka berpisah ranjang, kemudian berpisah rumah. Reyna pulang ke rumah orang tuanya. Herman bertahan di rumah kontrakan mereka.

“Periksalah ke dokter. Siapa di antara kalian yang bermasalah? Mungkin dokter bisa memecahkan permasalahan kalian,” saran ibu, suatu kali, ketika Reyna memutuskan kembali ke rumah limasan di pinggiran kota.

“Kami pernah membahas hal itu, Ibu,” sahut Reyna. “Kami sepakat tak akan membawa persoalan ini ke dokter atau pengobatan alternatif. Kami tak ingin mengetahui siapa yang bermasalah di antara kami. Kami tak ingin salah satu di antara kami terpukul dan merasa bersalah.”

“Kesepakatan yang aneh.”

“Lebih baik begitu, Ibu. Mengetahui siapa yang bermasalah di antara kami, itu menyakitkan.”

“Ya, sudah, bila itu keputusan kalian. Meski sebenarnya ibu sangat ingin meminang cucu. Lantas, apa rencana kalian?”

“Mungkin kami akan menempuh jalan terakhir, Ibu.”

“Jalan terakhir bagaimana?”

Pertanyaan ibu terjawab dalam beberapa minggu kemudian. Reyna dan Herman menjalani persidangan yang cepat. Tak ada keributan dalam persidangan itu. Semua berjalan damai. Tiga kali sidang, hakim memutuskan Reyna dan Herman berpisah. Reyna meneteskan air mata. Dadanya gemuruh. Beragam perasaan berbaur.

“Terima kasih kau telah mendampingiku lima tahun ini,” ucap Herman di luar ruang sidang.

“Kau suami yang baik, Mas. Mungkin aku yang bersalah,” sahut Reyna tersedu.

“Ssstt,” Herman menempelkan jari di bibir Reyna. “Kita sudah sepakat, tak ada yang bersalah di antara kita.”

                                                                     ***
Dua tahun telah berlalu. Reyna duduk di kursi roda. Seorang lelaki tampan berjalan di belakangnya, mendorong kursi roda itu. Mereka berhenti di dekat taman, tak jauh dari kamar mereka. Beberapa perawat berpakaian hijau pupus melintas dan tersenyum pada mereka. Sudah tiga hari mereka di rumah sakit itu.

“Mas Faisal,” Reyna menoleh ke belakang.

“Ya, sayang,” lelaki itu membungkukkan badan.

“Aku ingin bubur kacang hijau. Maukah kau membelikannya untukku?”

“Baiklah, sayang. Aku antar kau kembali ke kamar dulu.”
“Tak perlu, Mas. Biarkan aku di sini. Aku ingin udara segar.”

“Baiklah.” Lelaki itu segera pergi.

Tak lama kemudian seorang lelaki melintas, membawa bantal dan tikar plastik. Ia tertegun dan berhenti di dekat Reyna.

“Reyna?”

Reyna menoleh. Ia pun tertegun.
“Herman?”

Keduanya gugup dan gagap.

“Kau? Apa yang terjadi?” Herman memandang kursi roda yang diduduki Reyna.

“Aku…operasi cesar…tiga hari yang lalu,” Reyna menjawab dengan hati-hati. Bagaimana pun Herman pernah menjadi suaminya. Reyna tak ingin lelaki itu merasa bersalah mendengar dirinya telah melahirkan anak.

“Oh,” Herman bergumam. “Syukurlah. Selamat, ya?”

“Terimakasih. Kau sendiri sedang apa di sini?” Reyna memandang bantal dan tikar plastik yang dibawa Herman.

“Aku….mengantar isteriku. Dia juga akan operasi cesar. Mungkin nanti sore.”

“Benarkah?” sepasang mata Reyna membulat kemudian bibirnya menggariskan senyum. “Selamat, ya? Semoga operasinya lancar.”

“Terimakasih.”

“Sungguh ajaib,” gumam Reyna.

“Ajaib?” Herman mengernyitkan dahi.

“Kita pernah bersama selama lima tahun. Selama lima tahun itu kita diam-diam saling curiga, siapa di antara kita yang bermasalah? Dan, hari ini kita bertemu dalam momen yang sama. Aku melahirkan dan isterimu akan melahirkan. Bukankah ini keajaiban?”

“Yeah,” Herman mengangguk. “Ini keajaiban. Sungguh ajaib.”
Reyna melihat Faisal di kejauhan, berjalan mendekat. Dada Reyna berdebar. Ketika Faisal telah sampai, buru-buru Reyna mengenalkan lelaki yang bercakap-cakap dengannya pagi itu.

“Herman, kenalkan ini Mas Faisal, suamiku,” kata Reyna.

“Oh, maaf,” Herman menaruh bantal dan tikar ke lantai, lalu menjabat tangan Faisal. “Senang bertemu dengan anda, Pak Faisal.”

“Sama-sama, Pak Herman,” Faisal menjabat tangan Herman pula. Faisal membungkukkan badan ke arah Reyna. “Aku tidak menemukan bubur kacang hijau. Hanya ada sari kedelai,” katanya.

“Nggak apa-apa, Mas,” Reyna tersenyum.

“Maaf, saya permisi dulu,” kata Herman menyela. “Isteri saya pasti sudah menunggu,” imbuhnya, lalu pergi.

Setelah lelaki itu pergi, Faisal bertanya pada Reyna.

“Apa yang kalian bicarakan?” Reyna gugup.

                                                                         ***

Setelah pertemuan di rumah sakit itu, sepuluh tahun telah berlalu. Pak pos mengantar surat undangan untuk Reyna. Undangan reuni. Segunung rindu bergetar di dada Reyna. Ia akan bertemu kawan-kawan lama. Ketika teringat Herman, dada Reyna berdesir-desir. Sepotong kenangan berkelebat. Haruskah Reyna datang?

“Datanglah,” kata Faisal singkat, usai makan malam. Faisal tak banyak bicara. Dua belas tahun menikah dengan Faisal, Reyna tak pernah melihat lelaki itu marah.

“Tapi, Mas. Di reuni itu mungkin ada Herman,” kata Reyna.

“Tak apa. Itu pertemuan yang wajar, kukira.”

“Bagaimana kalau Mas Faisal menemaniku ke reuni itu?”

“Tidak bisa. Aku ada liputan.”

“Mengapa Mas Faisal tidak meliput reuni itu saja?”

“Tidak. Aku wartawan politik. Ada temanku yang akan meliput reuni kalian.”

“Jadi, aku datang sendiri?” tanya Reyna.

“Kau ajaklah Marina.”

“Sudah. Marina tidak mau. Kau tahu, anak kita pemalu, tidak suka keramaian. Marina memilih di rumah saja, bersama Mbok Yem.”

                                                                               ***
Reyna memutuskan mengemudikan sendiri Avanza silver menuju Hotel Kelana, hotel dengan view alun-alun kota. Reyna pernah menginap dua malam di hotel itu, saat bulan madu..

Reyna memeluk erat Savitri, Erlita, dan beberapa kawan perempuan yang pernah akrab di masa lalu.

Reyna, Savitri, Erlita mengambil tempat di meja bundar yang sama. Sebelum acara dimulai, Savitri meminta Reyna meluruskan selentingan kabar tentangnya. Sekitar setengah jam Reyna bercerita. Di akhir cerita, mata Reyna berkaca-kaca.

“Maafkan aku,” Savitri menyodorkan tisu dan Reyna menerimanya.

“Terima kasih,” sahut Reyna tersedu.

“Maafkan aku, Rey,” ulang Savitri. “Aku memintamu bercerita di waktu dan tempat yang salah. Tak seharusnya pula aku memintamu untuk bercerita. Maafkan aku.”

“Nggak apa-apa, Savitri. Nggak apa-apa.”

Tiga perempuan bergabung di meja mereka.

“Reuni yang mengharukan ya, Rey?” sapa seorang dari perempuan yang bergabung itu, ketika melihat mata Reyna basah.
Reyna hanya tersenyum.

Acara segera dimulai. Diam-diam Reyna mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang besar itu. Tetapi, di manakah Herman?
Reyna melihat seorang lelaki gagah berjalan dan berhenti di panggung. Reyna ingat, lelaki gagah itu Hendra, ketua Senat Mahasiswa pada masa itu. Hendra mendekat ke mikrofon dan mulai bersuara.

“Selamat datang, kawan-kawan. Hari ini sangat membahagiakan bagi kita. Tujuh belas tahun kita berpisah, tujuh belas tahun pula usia kita bertambah. Tetapi, hari ini juga menyedihkan bagi kita. Baru saja saya dapat kabar dari rekan panitia. Sebuah kabar duka. Seorang kawan kita mengalami kecelakaan di jalan tol saat hendak menuju hotel ini.

Kawan kita ini…. meninggal di tempat kecelakaan. Panitia telah sepakat, nanti usai reuni ini kita akan bersama bertakziah ke rumah almarhum kawan kita. Marilah kita sejenak berdoa untuk almarhum kawan kita….Herman.”

Reyna terhenyak. Tubuhnya terkulai di kursi, kemudian jatuh ke lantai berkarpet merah.

                                                                ***SELESAI***

Sulistiyo Suparno, kelahiran Batang 9 Mei 1974. Menulis cerpen sejak SMA. Bermukim di Limpung, Batang, Jawa Tengah. Surel: [email protected] – 0856 2576 174

Tidak ada kometar

Leave a Reply