Kenangan di Ujung Malam

Cerpen: Benny Hakim Benardie
Tak ada kata yang dapat aku terucapkan di ujung malam ini.  Angin senai-senai terus  bertiup tak henti. Seakan mengiring kepiluan hatiku, saat kenangan  kisah rasa 15 tahun lalu itu merambah masuk kedalam benakku.
Cerita seorang perempuan yang pernah ada saat aku resah gunda gulana. Rasa hina dina yang pupus saat dirinya ada. Indah saat dikenang, sakit terasa bila terkenang.  Hartini. Ya……Hartini, gadis manis dari Kabupaten Pacitan, Pulau Jawa.
Apa  nian kisahnya, sehingga Hartini tak hilang berbekas  dalam kenangan. Tak lekang termakan oleh umur  yang ini hampir setengah abad ber;lalu, meskipun tinggal jauh di Kota Bengkulu.
Orang mungin akan menceme’eh,  di tahun milenaial ini masih ada kenangan serupa itu. Memang kisah itu tidak seromantis syairnya para pujanga. Tak sesedihk kisah Romeo dan Juliet.  Tapi begitulah kenangan dan temuan  hidup. Kenyataan yang kini berubah seakan  menjadi fiksi. Susah untuk mengerti terhadap hikmah.
Kata pribahasa melayu tua dahulu, “Hanya Jauhari yang Mengenal Manikam”.  Hanya aku yang tahu kisah itu.  Tapi aku tidak tahu, karena aku tahu.
Satru ali dentingan suara tiang listri yang dipukul  peronda malam, menyentak sadarkan aku dari kenangan itu. Dari balik pintu halaman, tampak seorang peronda tua sumringah.
“Belum tidur Cik”, sapanya.
“Ups….Pak Zamzuri rupanya. Hampi saja aku kaget pak.  Aku kira siapa tadi. Singgah pak! Ini ada seceret kopi hitam sama pisang goreng dingin”, jawabku.
———
Pak Zamzuri peronda  yang rajin. Terkadang ia mampir saat melihat diriku besih duduk di balai-balai bambu berenda rumah. Menyeruput kopi di ujung malam biasa kami berdua lakukan, saat mata enggan terpejam. Meskipun dia bertandang di ujung malam tak lama. Hanya sehabis dua batang rokok, segelas kopi Bengkulu.
Mendekat  Pak Zamzuri, seperti biasa dia duduk dikursi rotang sembari mengangkat kaki hitamnya yang kian tampak kapalan.
“Hari ini tak secerah malam biasanya Cik? Maksud aku raut muka Cik itu. Apa ada pikiran berat yang sedang melanda? Sehingga Cik seperti orang yang sedang gundah gulana”, tegur Pak Zamzuri sembari bercanda ala melayu Bengkulu.
“Ah  Pak Zamzuri bisa saja. Aku dari tadi Cuma mikiri soal hari ini. Berkutat seharian mengais rezeki, yang didapat  belum sesuai harapan. Rencana mau mancing ikan gaguk, tau-tau yang kenai anak ikan seriding”,  jawabku sembari bercanda, yang membuat  kami berdua terkekeh-kekeh.
Rupanya dari candaan itu, Pak Zamzuri dapat membaca raut muka aku. Dibalik senyum dan tawa itu, dia melihat kegusaran.  Aku sodorkan rokok keretek dan ku tuangkan kopi di dalam cangkir kaleng, tak membuat pecah  konsentrasi peronda senior ini.
“Tak usahlah coba bohong Cik, Kita sama-sama orang yang sua bergadang. Kitta sama-sama tahu, kalau orang yang suka bergadang itu intuisinya sensitif dan  instingnya tajam. Kalau mau berbagi cerita di waktu yang sesaat ini mari Cik berbagi”, tegurnya menyindir.
Aku sempat terdiam beberapa saat. Tak sadar, raut muka aku berubah. Layar kisah aku dan Hartini terasa  muncul kembali di atas ubun-ubun kepalaku.  Sempat tampa olehku, saat aku menghantar Hartini ke kantornya, di sebuah bank swasta mengenakan taksi, meluncur ke kawasan Pasar Baru Jakarta Pusat.
Kami bercanda pagi itu, hingga tak menghiraukan supir taksi yang mengintip dari kaca spionnya.  Mendadak layar itu hilang, saat abu rokok di jariku jatuh ke paha. Aku tersentak. Pak Zamzuri pun tertawa. Bergegas dia berdiri dan beranjak pergi.
“Aku mutar lagi Cik. Aku bawa rokok tiga batang dama kopi segelas. Besok gel;asnya aku kembalikan”, tegurnya berlalu.  “Baok tenang Cik. Awas, ketauan orang rumah kelak, enyo cemburu pulo”,  katanya mengingatkan agar berhati-hati. Takut kisah cinta lama itu ketahuan sama isteri Cik yang kini lagi terlelap di pulau kapuktu.
Aku hanya tersenyum saja. “Lanjut pak……Kalau ada kijang patah kakicepat kasih tahu aku”, kataku.
————
Udara malam  sudah semakin dingin. Angin yang berhembus  senai-senai sudah tak terasa lagi. Dari balai-balai beranda rumah, dengan udara yang berubah, entah mengapa rasaku mulai terasa kesal. Pikiranku  terus membisik, kisah lama bersama Hartini gadis Pacitan itu sebenarnya bukan kenangan indah. Tapi itu merupakan pengkhianatan terhadap rasa cinta. Timbang sama dengan pengkhianat bangsa.
Pikiran rasionalku,  tampaknya mulai mempengaruhi khayal. Teringat asbabul kisah putusnya cinta. Hanya karena seseorang yang mempunyai ekonomi lebih dari padaku saat itu. Seorang pejalan kaki versus  pengendara bermobil sedan.
Rasa mulai sakit.  Tutur kata perpisahan yang menikam jantung.  Senyum manis Hartini Sang Pegawai Bank itu telah hilang, mendadak berganti rasa dendam bersarang, sedalam  Danau Dendam Tak Sudah.
Tapi sudahlah. Rasa dendam akan menimbulkan penyakit diri. Kenangan  mulai menantang rasionalitas.  Aku mendukung rasionalitas, tapi aku susah melepaskan kenangan itu, apalagi cepat-cepat  hilangkan  dari khayalku.
Bergegas aku ambil gaget dari dalam saku, untuk kubtorehkan saja rasa ini kedalam status media sosialku.
“Ini kenangan menyakitkan  yang enggan aku lepaskan. Kamis  di ujung malam kenangan 15 tahun nanlalu itu, terasa dihantar deru ombak menerpa pasir putih  Pantai Pajang Bengkulu.  Deru ombak membawa puing kenangan beterbangan……Wk wk wk wk wk”, statusku.
Agak sedikit lega rasanya. Baru sebentar terletak,  gaget bergetar. Rupanya sebuat komentar dari seorang perempuan yang mungkin lagi bergadang.
“Ada kesucian dibalik rasa.  Janganlah berlaku lemah saat dusta datang singgah bertahtah. Janganlah anda terlalu lebay, karena setiap massa memang selalu ada cerita.  Indahnya bintang di saat fajar, akan melukis arah daratan. Kembang melati akan bersemi semerbak di ujung malam, sebelum malam kembali menjelang”, tulis perempuan yang tak mau tampak foto profilnya itu .
Aku hanya senyum tersipu membaca komentar itu. Sembilan tanda like aku berikan. Perempuan yang tertulis namanya Hamba Sahaya itupun mengirimkan gambar anime tersenyum.
Aku jadi penasaran. Iseng, aku langsung masuk kejaringan pribadinya melalui pesan. Canda dan sapapun berlangsung. Iseng, langsung aku kirim gambar foto diriku yang terbaik, dengan  harapan perempuan itu mengirmkan juga foto dirinya.
Betapa kagetnya au, saat aku tahu, bahwa perempuan itu ternyata isteriku yang dari dalam kamar sedang bermain media sosial, setelah ia mengirim gambarnya. Pertengkaranpun pecah hingga fajar menyinsing. Baru hening dari saling tuding, setelah kami berdua dikagetkan oleh suara kucing kawin dari atas seng rumah.
“Hus…..hus…..hus”, teriak isteriku, saat aku berlari mengambil secentor air di kamar ,mandi, untuk menyebor kucing itu.
“Untuk apa air itu”, tanya isteriku.
“Buat nyiram itu kucing, biar dia nggak kedinginan dan nggak jadi syahwat lagi” kataku.
Iateriku tampak hanya mengangguk saja. Entah mengerti, atau tidak enggeh aan maksudku.
“Jangankan kucing, orang aja pas mau kawin,  terus di sebor air juga menciut”, bisikku ngedumel.
“Aau ah elap”, celetuk isteriku langsung masuk kamar.
Cerpenis tinggal di Bengkulu Kota.

Loading...

The post Kenangan di Ujung Malam appeared first on kupasbengkulu.com.

Loading...

Leave A Reply

Your email address will not be published.

seventeen − fourteen =