Kepompong Kupu-Kupu

Cerpen: MeKaSa
Bila esok hari datang kembali seperti sedia kala, dimana aku bisa tertawa lepas tanpa melihat mimpi buruk. Aku tidak ingin mengingat hari-hari ini sebagai hari dalam hidupku. Melupakan memang bukan jalan terbaik untuk ku dan lari bukanlah ide yang baik dalam langkah ku. Kisah hidup ku berawal dari pagi itu.
“Cing”, sapa seseorang.
“Iya”, sahutku, sambil mengingat nama orang itu.
“Masih ingat dengan ku?” Tanyanya yang mmbuat ku gelagapan.
“Emmm… Kamu, emm”, ujarku terbata-bata.
“Hahaha.. Ternyata kau pengingat yang lumayan buruk ya”, ujarnya seraya mentertawaiku.
“Hehe.. Ya aku memang masih agak lambat dalam mengingat nama orang”, sahutku malu-malu.
“Melihat umur mu yang jauh lebih muda dari ku, itu adalah hal yang biasa. Apalagi kau adalah seekor ulat yang baru lahir, wawasanmu masih sangat sempit”, sahutnya panjang lebar.
“Ahh maafkan saya Hyung ulat”, timpalku.
*Hyung (Panggilan kakak laki-laki di Korea)
“Tidak apa-apa”, sahutnya.
“Bolehkah saya menjadi adik angkatmu Hyung?” Tanyaku.
“Kenapa?”Jawab dan tanyanya singkat.
“Tidak Hyung, hanya saja aku merasa hyung itu orang yang luar biasa”, jelasku.
“Haha… Luar biasa? Aku hanyalah ulat yang sama seperti mu, kita seumuran tapi beda jauh itu lah perbedaan kita… Hahaha”, jawabnya.
“Hahaha…”.
“Jika memang kau ingin menjadi adik ku. Aku tidak keberatan, tapi kau harus berjanji padaku kau harus lebih bersinar dari aura yang ku punya. Hahaha..”, jelasnya.
“Bersinar Hyung?” Tanyaku.
“Kau tak harus mengerti itu sekarang cing, butuh proses agar kau mengerti itu”, jelasnya lagi.
Diumurku yang masih sangat muda, dan sikapku bahkan pikiranku masih sangat polos aku hanya bisa menjawab. “Baiklah Hyung, hehe”, jawabku.
Tanpa berpikir panjang apa yg akan terjadi dikemudian hari, entah baik atau buruk pikiranku saat itu hanya lah kesenangan akan hari ini bukan esok hari. Dari hari itu hubunganku dan Hyung berjalan sesuai apa yang kuharapkan dan hidupku jauh lebih berwarna. Setiap hari kami mencari makan bersama, bermain bersama, pergi bekerja bersama, menikmati senja bersama, dan semuanya kami lakukan dengan tawa yang selalu melekat diwajah kami.
Hyung benar-benar mengajak ku masuk kedalam hidupnya yang menurutku sangat menyenangkan dan penuh dengan warna-warna pelangi disetiap langkahnya. Itu adalah anggapan ku pada saat itu, sampai aku berpikir sosok yang aku kagumi saat ini terlalu indah untuk dilupakan bahkan hanya untuk beberapa detik. Tak banyak inginku saat itu aku hanya ingin pikiranku terhenti disana dan tak pernah bepikir untuk meninggalkan Hyung meski dunia akan lenyap, tiada satupun yang akan menggantikan Hyung saat itu.
Hari itu adalah hari yang begitu panjang, pagi-pagi buta kami harus pergi bekerja. Hyung adalah Direktur diperusahaan itu dan aku adalah manajer di perushaan Hyung. Entah kenapa hari itu perusahaan sangat sibuk sekali.
Banyak pekerjaan yang harus kami kerjakan, mulai dari menyiapkn berkas-berkas, sampai rapat untuk produk yang akan kmi pasarkan. Saat itu pemasaran hanya dilakukan melalui pintu ke pintu dan dititipkan dengan kolega-kolega kami, dan rapat ditutup tepat disore hari. Sepulang dari kantor kami langsung bergabung dengan masyarakat yang sedang melakukan kerja bakti, dan aku bertemu dengan Caca disana.
“Hai, Caca”, sapaku.
“Haii, Cing”, jawabnya.
“Bagaimana dengan sekolahmu hri ini?” Tanyaku.
“Ya begitu lah Cing, kami hanya diam duduk mendengarkan guru menjelaskan, membeli buku, meminjam buku diperpustakaan, belum lagi tugas mencari berita atau cerita di koran dan sebagainya”, jawab Caca.
Ya caca adalah ulat muda yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama, dia anak dari tetangga kami. Orang tuanya adalah ulat PNS.
“Ohh begitu, tapi menyenangkan bukan bersekolah?” Tanyaku lagi.
“Ya sangat-sangat menyenangkan walaupun agak membosankan. Teman-temanku sangat ramah, mereka semua selalu mengajakku bermain, setiap istirahat berlangsung pun lapangan di sekolah kami selalu ramai dan kelas pun menjadi sepi. Wkwkwk”, ujar Caca.
“Hahahaha… Bagus lah kalau begitu Ca”, sahutku.
“Ehh ada Ulat Cing, baru sampai Cing?” Tanya Ibu Caca ramah.
“Iya Ibu Caca, baru saja”, jawabku.
“Mana Hyung mu?” Tanyanya lagi.
“Itu disana sedang membersihkan selokan bersama bapak-bapak yang lain, bu”, jawabku seraya menunjuk kearah Hyung.
“Bagaimana kerjanya lancar hari ini?” Tanya Ibu Caca lagi.
“Alhamdulillah lancar, Bu. Bagaimana dengan ibu?” Jawab dan tanya ku.
“Yah begitu lah Cing, PNS saat ini lumayan sejahtera Cing. Hahaha”, jawab Ibu Caca.
“Hahahaha..”, tawaku juga.
Pembicaraan itu tidak berakhir sampai situ saja kami semua berbincang-binncang di sore bakti itu. Sampai tiba malam, Aku dan Hyung makan bersama sambil menikmati sinar Sang Rembulan Malam dengan meses yang bertaburan di langit. Hehehe..
Kami pun berbincang-bincang.
“Hyung”, celetuk ku.
“Hmm” jawab Hyung singkat.
“Apakah tahun depan suasana seperti ini masih akan sama?” Tanyaku.
“Ada apa dengan pertanyaanmu ini?” Jawab Hyung.
“Tidak, hanya saja…”. Pernyataanku terhenti ketika aku melihat raut wajah hyung yang mengatkan dia tidak ingin mendengar hal-hal semacam itu.
“Kita bahas yang lain saja”, suruh Hyung.
Aku pun membuka pembicaraan baru
“Bagaimana kalau besok kita piknik Hyung?” Ajakku.
“Boleh, kemana?” Jawab dan tanya Hyung.
“Bagaimana kalau kepucuk pohon Hyung?” Usulku.
“Baiklah”, setuju Hyung.
Keesokan harinya kami pun mendaki pohon untuk melihat indahnya pemandangan desa ulat dari atas pohon. Tak banyak bicara kami saat itu, kami hanya bisa tercengang menikmati betapa indahnya desa kami saat itu yang dipenuhi dengan keluarga-keluarga yang berkumpul di depan rumah, anak-anak kecil yang berlarian dan bermain bersama, canda tawa setiap anak remaja yang berkumpul mengerjakan tugas karang taruna di desa. Tahun ini benar-benar indah.
Sampai akhirnya tahun ini berakhir dengan kemajuan teknologi yang begitu melesat, dan Hyung yang telah berubah lebih dahulu menjadi sebuah spsies baru. Kini, aku yang masih menjadi Ulat dan Hyung telah menjadi Kupu-kupu nan indah, tapi masih dalam kehidupan yang sama, pekerjaan yang sama, dan masih di posisi yang sama. Seminggu, sebulan, bahkan sampai setahun ini kehidupan kami tak banyak berubah dari pagi menjelma siang dan siang menjelma malam.
Kehidupan baru dimulai dihari itu
Aku mungkin hanyalah satu dari segelintir orang yang tak mengerti dengan perkembangan teknologi saat ini. Tapi berbeda dengan Hyung, ulat yang awalnya sama sepertiku, namun kini bukan hanya dirinya yang berubah, sifat dan perilakuannya terhadapku mulai sedikit berubah. Perubahan itu mulai aku rasa semenjak dia menjadi spsies baru.
“Hyung”, panggilku di pagi itu.
“Y”, jawabnya singkat.
“Apa Hyung ke perusahaan hari ini? Sudah seminggu Hyung tak bekerja?” Tanyaku.
“Tidak”, jawabnya singkat lagi.
“Apa tidak apa-apa jika Hyung tidak bekerja? Hyung kan Direktur di perusahaan itu?” Tanyaku lagi.
“Kau kira aku tidak bekerja, mangkanya kau harus maju jangan diam ditempat terus”, sahutnya dengan nada sedikit agak tinggi.
“Iya-iya Hyung”, jawabku dengan sedikit tersentak.
Dari hari itu aku tak pernah menanyakan masalah pekerjaan pada Hyung. Makan pun terkadang tak bersama lagi, untuk senja indah yang selalu kami nikmati bersama pun kini terasa seperti senja suram, karna kini kami hampir tak memiliki waktu untuk bersama.
Sore itu, ketika aku pulang dari perusahaan aku bertemu dengan Caca dipersimpangan depan rumahku.
“Hallo Caca”, sapa ku.
“Hallo Cing”, sahutnya.
“Darimana kamu?” Tanyaku.
“Dari kerja kelompok Cing”, jawabnya.
“Ohh…bagaimana sekolahmu, Ca?” Tanyaku lagi.
“Sekarang sekolah sudah mulai menerapkan sistem K13 Cing. Guru tak lgi menjelaskan materi, kami lah yang mencari materi, kami pula yang menjelaskan pada teman-teman kami, kami juga boleh membawa hp kesekolah untuk mencari bahan pelajaran. sekarang sekolah lebih menyibukkan Cing”, jelasnya padaku.
“Wahhh seru kalau begitu, Ca”, sahutku.
“Iya sistem ini ada positif dan negatif nya, Cing. Disatu sisi kami senang, karna boleh membawa hp tapi di sisi lain kami lebih capek dari sistem yang dulu, Cing”, jelasnya lagi.
“Itu lah tantangan hidup, Ca. Kamu harus bisa dan yang terpenting harus semangat dan bisa memanage waktumu agar kamu tidak kelelahan”, saranku padanya.
“Siapppppp Cinggg. Kamu memang the best, hehe”, sahutnya.
“Kamu mau kemana, Cing?” Tanyanya lanjut.
“Aku mau pulang, kamu sendiri?” Jawab dan tanyaku.
“Sama, kita bareng aja yuk cing udah lama kita nggk ngumpul kaya gini”, ajaknya.
“Ok cus”, sahutku.
Selama diperjalanan kami banyak berbincang-bincang. Sampai setibanya kami di depan rumah aku dan Caca.
“Ehh Cing kamu disini?” Sapa Ibu Caca.
“Iya, Bu. Apa kabar, Bu?” Sahutku.
“Alhmdulillah sehat, Cing. Kamu gimana juga?” Jawab dan tanyanya.
“Alhamdulillah sehat juga, Bu” Timbalku.
“Udah jarang ibu liat kamu sama Hyungmu”, ujar ibu.
“Hehe iya bu, Hyung sekarang lebih banyak kerja di rumah dibandingkan ke perusahaan”, jelasku.
“Kenapa begitu?” Tanya Ibu penasaran.
“Entahlah bu, aku juga tak mengerti bu. Ketika aku menanyakan itu dia selalu menjawab aku harus maju bukannya diam ditempat seperti itu bu”, jelasku lagi.
“Yah begitu lah Cing kita sekarang hidup di zaman yang berbeda dengan dulu, sekarang teknologi menjadi dasar dari segalanya, buktinya saja untuk musyawarah kampung yang biasanya kita lakukan setiap sabtu sore di balai kampung, kini musyawarah lebih seru dan ramai dilakukan di grup, kerja bakti pun sudah jarang kita lakukn dikampung, ketika jaga malam bukannya berbincang-bincang bersama kata ayah caca kini semuanya malah asyik dengan hpnya masing-masing”, jelas Ibu Caca balik.
“Separah itu kah, bu?” Sahutku sembari syok dengan penjelasan Ibu Caca.
“Iya Cing”, jawab Ibu Caca.
“Itulah alasannya kini kita harus pintar-pintar mengkuti zaman kalau tidak kita akan sangat-sangat ketinggalan informasi dan sebagainya. Tapi karena itu juga kekeluargaan kita mulai meluntur”, lanjut Ibu Caca.
Begitu butanya aku dengan perubahan masa kini yang berkembang sangat cepat melebihi cepat nya hembusan angin, detiknya jam, dan kedipan mata. Orang sepertiku mungkin tak akan mudah menyesuaikan diri dangan perubahan yang ada saat ini dan bagaimana bisa aku menyaingi sinarnya hyung jika aku saja sekarang ini sudah tertinggal jauh dibelakang Hyung.
Lamunanku terhenti ketika, “Cing! Cing! Cingggggg”, panggil Caca yang berhasil membangunkan ku dari lamunan singkat itu.
“Ehh..iya”, sahut ku galagapan.
“Kamu kenapa, Cing?” Tanya Caca.
“Tidak Ca, aku hanya merenungi zaman yang sedang kita jalani”, jawabku.
“Hahaha….”, tawa Caca.
“Kenapa kamu tertawa Ca?” Tanya ku bingung.
“Tidak. Kamu ini lucu sekali, hal seperti itu tak perlu kau renungi, tapi harus kau jalani”, jawab Caca.
“Iya itu benar Cing, tak apalah mungkin kamu masih butuh penyesuaian dengan era sekarang, tapi ingat jangan terlalu lama menyesuaikan diri takutnya kamu akan terseleksi oleh alam. hehe”, ujar Ibu Caca.
“Hehehe… Siap-siap”, sahut ku.
“Ayo-ayo sudah magrib kita pulang kerumah”, suruh Ibu Caca.
“Ah iya-iya, Bu”, jawabku dan Caca.
Malam itu setelah bertemu dengan orang-orang yang memberi tahuku tentang perubahan yang ada, setelah sekian lama tanda tanya besar ini bersarang dikepalaku, yang selalu menghantui setiap langkahku dan rasa muak yang selalu aku dengar disetiap tindakanku pada era ini. Tapi apa yang harus ku utarakan terlebih dahulu pada Hyung. Apa?
Pikiranku benar-benar kacau malam itu, sampai-sampai aku tak bisa berpikir jernih atas apa yang kualami saat ini. Tapi, “Hyung”, panggilku dengan spontan ketika Hyung berjalan melaluiku di ruang tamu.
“Iya”, sahut Hyung, yang jawabannya tak pernah berubah sejak saat itu, ya jawaban singkat yang selalu menghiasi pertanyaanku.
“Bolehkah kita berbincang sebentar?” Tanyaku hati-hati.
“Ya. Apa itu?” Jawab Hyung.
“Era apa sekarang ini Hyung?” Tanyaku tak beraturan.
“Apa maksudmu? Ini era globalisasi, dimana kita dituntut kreatif, kita bisa mendapat informasi dimana-dimana, kita juga bisa menjangkau pekerjaan rutin dari mana saja dan kemana saja apa kau tidak tau hal-hal seperti itu sekarang ini?” Terang Hyung.
“Apa Hyung?” Sahutku termanga.
“Apa kau sebodoh itu? Kau kan sudah berjanji padaku untuk bisa memberikan aura yang lebih bersinar dari pada aku, bagaimana bisa kau seperti ini?” ujar Hyung dengan nada yang agak tinggi.
“Hyung”, rintihku.
“Aku kecewa padamu, yang tak bisa menyesuaikan diri, bagaimana kau bisa berubah menjadi kupu-kupu yang memiliki aura menyilaukan jika kau masih berjalan ditempat seperti ini? Bahkan spesies kupu-kupu enggan mendekati orang sepertimu kalau kau masih seperti ini.” bentak Hyung.
“Hyung”, untuk kesekian kalinya aku hanya bisa mengeluarkan kata Hyung dari mulutku.
“Kenapa kau hanya menyebutku dari tadi, jelaskan pada ku mana janjimu? Jangan menjadi ulat yang lemah, bodoh”, ujar Hyung masih dengan nada tingginya.
“Berhentilah menyebut diriku tak berguna Hyung?” Sahutku yang akhirnya bisa mengeluarkan sebuah kalimat dan bukan kata lagi.
“Ternyata kau masih punya nyali untuk membela dirimu itu”, ujar Hyung.
“Kau kira kau hebat Hyung?” Tanyaku yang mulai naik pitam.
“Apa kau bilang?” Lanjut Hyung.
“Ya. Apa kau kira kau itu sudah bijak? Sudah benar? Sudah memiliki aura yang menyilaukan? Sudah kekinian? Hah?” Sergahku.
“Kalau memang iya, kau mau bicara apa?”Jawab Hyung.
“Hah! Itu semua palsu, kau pikir dengan kau kekinian kau bahagia?” Tanyaku masih dengan nada yang tinggi juga.
“Ya aku bahagia”, sahut Hyung tak kalah tinggi nada bicaranya denganku.
“Apa kau bilang? Kau bahagia? Ok. Sekarang aku tanya bahagiakah Hyung yang sekarang makan hanya dengan sebuah laptop dan hp? Bahagiakah Hyung saat ini yang tak pernah melihat indah nya senja? Bahagiakah Hyung yang saat ini susah untuk tertawa bersamaku dan masyarakat disekitar sini?
Bahagiakah Hyung saat ini yang setiap harinya hampir tak pernah bertegur sapa dengan warga sekutar sini? Bahagiakah Hyung saat ini berteman hanya dengan sebuah laptop dan hp yang secara logika tak bisa kau ajak bicara apalagi curhat? Bahagiakah Hyung saat ini tak mengenal orang secara keseluruhan dan hanya melihat orang dari sampul foto saja? Bahagiakah Hyung???” terangku panjang lebar dengan penuh amarah
Kalimat itu membuat Hyung tersadar seetika
“Cing”, rintih Hyung.
“Sekarang siapa yang kecewa dan siapa yang mengecewakan? Hyung atau aku yang kau sebut bodoh ini?” Ujar ku.
“Cing”, hanya kalimat itu kini yang keluar dari mulut hyung yang tadinya penuh dengan amarah.
“Apa Hyung? Apa kau baru menyadarinya?” Tanyaku pada Hyung.
“Maafkn Hyung, Cing”, ujarnya dengan sedikit terisak.
“Aku kecewa pada Hyung, kau orang yang ku puji-puji dari dulu tapi kini? Kau berubah menjadi benalu yang merugikan bagi kehidupanku, kau menyuruhku untuk bisa memiliki aura yang sangat bersinar? Semua itu bohong, untuk apa, aku memiliki semuanya jika aku tidak bisa mendapat kebahagiaan Hyung, itu semua tak ada artinya bagiku Hyung.
Tapi berbeda dengan Hyung, kau memilih untuk menjadi kekinian tapi tak memiliki kebahagiaan yang alami dari sekitarmu, kau tau kebahagiaan dari sekitar itu seperti selimut yang menghangatkan tubuhmu ketika kau berada di musim penghujan, tapi kau membuang selimut itu. Kau lah yang lebih pantas disebut bodoh Hyung”, ungkapku dengan penuh amarah.
“Maafkan aku Cing, aku memang salah Cing”, hanya kalimat maaf yang bisa Hyung ucapkan saat itu.
“Maaf juga Hyung aku tak bisa menerima Hyung sebagai Hyungku lagi, jika memang seperti ini”, ucapku.
“Cing, tolong Cing setiap detik bersamamu itu berharga bagiku, maafkan Hyung Cing”, pinta Hyung.
“Apa berharga? Semua itu bohong Hyung, selama setahun lebih setiap pertanyaanku terjawab dangan jawaban yang singkat-singkat, setiap kali makan, meja terasa seperti meja dan kursi kehampaan, setiap kali senja memperlihatkan kecantikannya kau selalu merubahnya dengan pemandangan yang suram. Apa itu yang kau sebut setiap detik bersamaku berharga? Aku rasa bukan Hyung”, jawabku.
“Kau tau besok aku akan menjadi kupu-kupu sepertimu, jadi jangan katakan aku tidak akan diterima oleh spesies kupu-kupu, dan jangan katakan aku ulat yang bodoh lagi karna mulai besok aku bukan ulat yang bodoh tapi aku akan menjadi kupu-kupu yang bijak tanpa aura yang menyilaukan tapi dengan aura kehangatan”, ucapku.
Dari malam itu aku dan Hyung tak lagi tinggal serumah, aku memutuskan untuk tidak lagi mencintai seseorang terlalu berlebihan, dan memuji-muji seseorang terlalu berlebihan.
Setahun kemudian..
Aku telah berubah menjadi spesies kupu-kupu. Sore itu aku tersadar kehidupan ini sepertinya mulai benar-benar berubah, padahal dulu aku adalah orang yang menentang habis-habisan akan adanya perubahan yang Hyung bilang padaku saat itu. Aku belum bisa terima akan perubahan yang aku lihat saat ini, yang kurasakan saat ini, bahkan yang kujalani saat ini.
Senja indah yang ku nikmati sore ini sangat-sangat berbeda dengan senja di sore dulu, kini aku telah berhasil menyesuaikan diri dengan era sekarang. Aku kekinian tapi tak melupakan sekitarku. Aku kekinian tapi tidak melupakan ada senja yang harus kunikmati. Aku kekinian tapi tidak melupakan bahwa aku makhluk sosial, dan aku memang kekinian tapi aku tidak melupakan bahwa aku punya rumah untuk kembali dan tujuan untuk pergi.
Cerpen ini bercerita tentang kehidupan era dulu dan era sekarang yang banyak sekali mengalami perombakan entah dari sisi komunikasi, informasi maupun pendidikan. Tapi, ingatlah jangan terlalu terlena jika sudah terjun kedalamnya dan jangan lupakan proses ketika menjalaninya. Karena yang dibutuhkan manusia adalah sebuah koma untuk berpikir dan memproses, bukan titik untuk sebuah kepastian yang masih diragukan.
•Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Kampus 4 Kota Bengkulu
The post Kepompong Kupu-Kupu appeared first on kupasbengkulu.com.

Loading...

Comments are closed.