Kisah Anak Ikut Perang: Tabarenah Membara, Sungai Musi Mandi Darah

ilustrasi: Kompasiana

ilustrasi: Kompasiana

Oleh: Adhyra Irianto

Hermansyah Nazirun, seorang penyair Tanah Rejang, menyebut perang dahsyat di Tabarenah sebagai “Tabarenah Membara, Sungai Musi Bermandi Darah” dalam syair. Kemudian, Emong Soewandi menceritakan ulang terbakarnya Tabarenah, lewat buku “Sejarah Perjuangan Rakyat Rejang.”

SEORANG tentara Jepang yang tengah patroli, tiba-tiba tertegun melihat sebuah rumah di Desa Tabarenah. Rumah penduduk biasanya selalu terbuka lebar, baik pintu maupun jendelanya. Tapi, tidak dengan rumah yang satu itu.

Ia lalu meminta temannya, sesama tentara Jepang, yang sedang mengendarai mobil untuk menghentikan laju kendaraannya. Dari rasa penasaran itu, dia turun dari mobil dan langsung menuju rumah mencurigakan itu.

Lama ia memanggil, tapi tak kunjung berbalas. Ia periksa kanan dan kiri, juga sekeliling rumah itu, tapi tetap tak berbalas. Kemudian, dengan sekuat tenaga, diterjangnya pintu rumah itu. “Brakk!”

Dalam sekali terjang, pintu itu berhasil terbuka lebar. Ia lalu melangkah masuk, sambil mengarahkan senapan berbayonet di tangannya, sesuai arah pandangannya.

Tak disangka, dibalik pintu, pemilik rumah memegang parang, sudah menantinya. Ketika tentara Jepang itu sudah berada di depan wajahnya, seketika mengayun parangnya. “Srettt!!”

Darah mengucur kemana-mana, menderas dan berserakan di lantai tanah. Kepala tentara Jepang malang itu terpisah dari badannya. Begitu pula rohnya, ikut berpisah dengan jasadnya.

Aksi heroik pemilik rumah berakhir dengan peluru yang berdesing memberondong tubuhnya. Lelaki itu meninggal, dengan puluhan peluru bersarang di tubuhnya. Rekan tentara Jepang membiarkan saja tubuhnya bergelimang darah sendiri, terkapar di lantai. Ia hanya membawa tubuh dan kepala temannya, kembali ke Teikoku (sekarang Dwitunggal).

Jepang memang pemarah. Perwira Jepang melihat tubuh anak buahnya terpisah dari badan, mengamuk sejadi-jadinya. Ia lalu memerintahkan seluruh prajuritnya untuk menyerang dan membumi hanguskan Tabarenah, sebagai bayaran atas nyawa prajuritnya.

**

Bulan Agustus 1945, Anwar Samin masih berusia 14 tahun. Di usianya yang begitu belia, ia dihadapkan dengan suasana panik Tabarenah, yang sedang bersiap menyongsong kedatangan tentara Jepang.

“Tentara hitam lalu bersiap, aku mengambil sebilah bambu yang runcing ujungnya, bersiap menyongsong mereka,” kenang Anwar, yang biasa disapa Abek.

Tentara hitam memang sebutan dari tentara republik pada warga yang ikut berperang dengan senjata tradisional. Warna pakaian mereka selalu hitam, mendeskripsikan kenapa mereka disebut Tentara Hitam. “Bukan seragam, atau baju pemberian, tapi karena selain baju hitam dari bahan karung, kami tidak ada pakaian lain,” kenang Abek.

Abek yang masih sangat muda, bahkan masih masuk dalam kategori anak, terpaksa ikut berperang. Mempertahankan wilayah, nyawa dan harga diri bangsa. Dengan cekatan, Abek muda bersama tiga puluh orang anak remaja seusianya mencari bahan makanan, juga bahan kayu untuk mendirikan sebuah dapur umum.

“Sayang, dapur belum berdiri, iring-iringan mobil tentara Jepang sudah masuk ke Tabarenah, melewati jembatan Tabarenah.”

Tentara republik bersama “Tentara Hitam” sudah bersiap menanti kedatangan mereka. Tabarenah dihujani peluru, martir dan bom, sedang tentara republik balas dengan tembakan juga lemparan granat. Lalu, meletuslah perang yang dikemudian hari dikenal dengan nama Perang Tabarenah.

Ibu-ibu dan anak kecil dilarikan ke tengah perkebunan, kalau tidak disebut hutan. Sedangkan Abek muda dan remaja lainnya maju menyerang, menyelinap dari balik ilalang, lalu menusuk tentara Jepang. “Lima belas orang teman sepermainan saya, gugur dalam perang tersebut,” kenang Abek.

Jepang akhirnya memukul mundur tentara Republik, juga Tentara Hitam hingga mencari tempat yang aman di tengah hutan. Lalu, mereka berpesta, membakar 60 dari 66 rumah yang berada di Tabarenah. “Asap hitam membumbung ke angkasa, rumah kami habis dilalap api. Kambing milik warga, sempat disembelih dan dipanggang tentara Jepang. Saya melihatnya dari balik pepohonan,” cerita Abek. Air mata perlahan meleleh di pipinya.

**

Sekitar bulan September 1945, lewat radio, warga Rejang Lebong akhirnya mengetahui bahwa Jepang telah pergi. Jepang telah angkat kaki. Kemerdekaan Indonesia bertambah hakiki, dengan berkumandangnya proklamasi. Saat itu, bendera Merah Putih berkibar di mana-mana.

“Pak Barlian lalu mendirikan tugu Tabarenah, untuk mengingat kejadian mengerikan itu, tepat di depan rumah saya,” kata Abek.

Sekarang, telah tujuh puluh satu tahun berlalu dari kejadian itu. Abek berurai air mata mengingat gugurnya lima belas remaja yang seharusnya sekarang sudah memiliki cucu, seperti dirinya. “Sekarang sudah enak, sudah canggih, bahkan masak nasi saja sudah pakai rice cooker. Kalau bapak mengingat masa itu, tak akan habis air mata bapak,” kata dia, ketika penulis menyambangi rumahnya beberapa hari yang lalu.

Tugu Tabarenah, yang dibangun untuk mengenang perang tersebut sekarang menjadi dua. Satu di antaranya didirikan dekat Jembatan Tabarenah yang berada di atas Sungai Musi. Keduanya dalam kondisi memprihatinkan, dipenuhi belukar dan lumut.

“Kalau saya ada uang, saya beli racun rumput untuk membersihkan semak belukarnya. Saya berharap ada perhatian pemerintah, setidaknya desa untuk ikut menjaganya. Karena, bagi kami, tugu itu begitu bersejarah,” tutup Abek. (**)