Lamunan di Ujung Karang

Cerpen:  Benny Hakim Benardie
Fajar ini, hilang riuh candaan ala anak muda Melayu Bengkulu. Tak tampak lagi  bujang gadis hingga anak-anak yang berduyun menuju Ujung Karang. Dunia berubah, ta seperti di Tahun 80-an.  Hening  tanpa teriakan, tawaan saat  ana negeri bermain sembarlakon. Permainan tradisional yang biasa dilakukan usai melakukan shalat subuh di Surau.
Ujung Karang kini terasa sepi.  Lalang dan candaan itu tak dikenal lagi. Hanya deburan ombak yang kini menemani mega-mega di ufuk tepi barat Pulau Sumatera ini. Rindu akan kenangan Bengkulu dahulu  hanya tampak di alam khayal.  Kenangan yang akhirnya dihembus angin senai-senai, dingin Bukit Tapak Padri, Ujung Karang Bengkulu Kota.
Fort Marlborough yang dibangun Tahun 1714, markas pertahanan koloni Inggris kedua setelah Fort York,  tampak terlelap tidur dengan kekusamannya.  Mungkin melihat Bukit Tapak Padri yang kini tinggal setengah gundukan, akibat  di imbas pembangunan sekitar belasan tahun nanlalu.
“Oh  Negeri Melayu Bengkulu……..Hilangkah budaya dan tradisi lama mu? Dimanakah anak negeri yang dulu  sudah beranjak tua kini berada? Mungkin file-file kekayaan lokal itu,  sengaja dihilangkan atau tak bermanfaat lagi saa kini!” fikir ku sembari menghirup udara fajar yang membuat sejuk di dada.
——–
Aku terus menatap  jauh ke ujung lautan luas seakan tak bertepi. Tak ku hiraukan airmata yang menetes, terkenang yang tak karuan dirasa. Aku sadar, tapi aku tak paham, apakah itu tetesan air mata duka ataukah  bahagia karena melihat negeri yang berani menghancurkan, membangun tapi belum mampu memelihara karyanya sendiri.
Mungkin juga itu karena aku melihat perahu nelayan, yang kini mencari ikan tanpa mengenakan layar lagi. Tidak seperti Datuk ku dulu saat melaut mencari ikan.
“Ah sudahlah….Mungkin hal-hal lama itu sudah tidak penting  lagi. Cerita Lama Pusaka Usang.  Tahun 2019 ini masyarakat butuh hal-hal yang baru dan semuanya baru”, ujarku dalam hati.
“Ndan……Apo ulah…Melah balik. La pagi ari ko”, teriak Addien, temanku menghimbau aku untuk  bergegas pulang, karena pagi akan menjelang.
Agak sedikit berat aku tegak berdiri. Tapak Padri di Ujung Karang ini terlalu banyak ceritera yang membentuk dan mempengaruhi  karakter anak Negeri Melayu Bengkulu  era 70-an. Banyak ceritera dibalik ceritera. Di Ujung Karang inilah anak negeri berkumpul dan menghirup asinnya udara laut saat fajar menyingsing.
Aku kuatkan untuk  tegak,  tinggalkan Ujung Karang. “Yo ndan….Sabar”, jawabku.
Langkah ku sempat terhenti. Aku panggil balik Addien yang berada di bawah bukit untuk mendekat.
“Ada apa sanak?”, tanya Addien.
Aku menunjuk ke arah pantai. “Itu lihat! Ingatkah sanak lokasi apa itu?”
Addien menganguk. “Itu Boom. Pelabuhan lama zaman Inggris dan Belanda dahulu. Ada apa dengan Boom itu Sanak?”.
“Itu salah satu ceritera yang perlu diceritakan. Biar generasi kini tahu kalau Negeri Bengkulu ini sudah sejak zaman dahulu kala sudah punya pelabuhan laut. Dari sanalah dulu koloni Inggris, Prancis, Belanda Jepang dan pendatang nusantara  tiba. Dari sana pulalah orang tua-tua kita berlayar saat berangkat ke  Tanah Harram Makkah Al Mukaramah”, jelasku.
—-
Aku bujuk Addien, agar ia mengurungkan niatnya  mengajak aku bergegas pulang. Diapun tampak  menurut saja ajakanku, sembari menampakan raut muka kebingungan melihat aku.
“Indah bukan!”
Addien menganggukkan kepalanya. Akupun mulai menceritakan sekilas kenangan lama kisah Boom. Di sItulah Bandar Bengkulu kedua negeri ini. Pelabuhan kapal laut yang dibuat Koloni Inggris zaman dahulu.
“Sebelum abad 15 Masehi, Bandar Bengkulu itu adanya di Negeri Talang Pauh”, kataku sembari menunjuk ke arah utara Bengkulu.
Addien tampak masih mengangguk-anggukan kepalanya.“ Bukannya pelabuhan Pulau Baai yang di buat koloni Inggris sekitar tahun 1797?”, tanya addien,  yang akhirnya lupa akan rencana  untuk mengajak pulang. Untuk tiket keberangkatan pulang  ke Jakarta masih beberapa jam lagi. Namun aku merasa puas usai 25 tahun tak pulang ketanah kelahiran ini.
“Pulau Baai yang nama aslinya Poolo Bay itu dibangun,   karena menganggap pelabuhan Boom itu sudah tidak representatif lagi. Pelabuhan itu terus dilanjutkan pembangunnya oleh koloni Belanda. Terus baca aja sendiri sejarahnya”, sambil ketawa.
—–
Fajar telah berlalu. Mentari mulai meranjak naik. Panas mulai terasa membuat peluh meleleh. Kamipun memutuskan untuk meninggalkan Ujung Karang. Ada rasa sedih saat mobil yang dikendarai Addien mulai meluncur menuju jalan arah Pasar Bengkulu, sebelum kembali kerumahnya di Dusun Babatan.
Rupanya dalam perjalanan, Adddien yang tamatan Ekonomi mulai tertarik dengan ceritera masa lampau. “Memang, sejarah masa lampau itu harus diketahui. Dengan mengetahui sejarah, kita dapat menerapkan pembangunan yang ada, dengan manarik garis yang sudah ada. Paling tidak itukan sanak?” kata Addien.
“O iya…..Apalagi zaman kini, kita dapat mengetahui fakta sejarah Negeri Melayu Bengkulu ini dahulu kalanya. Aku rindu akan kisah lama ini, mungkin karena saya tinggal dirantau. Saat dirantau  rindu akan kenangan masa lalu itu sering timbul dalam benakku”.
“Jadi karena itu Mandan ngajak aku fajar tadi ke Ujung Karang Tapak Padri ?” Tanya Addien.
“ Yups……Aku ingin berkenang-kenangria he he he”.
Jadi sesuai sumber yang aku baca, Negeri Melayu Bengkulu ini memang kaya akan sejarah masa lampau. Kkoloni Inggris dan Belanda punya rencana akan pembangunan areal Ujung Karang dan Pulau Tikus. Itu semua sudah di peta oleh mereka.
“Rencana yang bagus tu, kalau saat itu terwujud”, timbal Addien.
“Memang kalau itu terwujud, maka generasi kita saat ini tinggal meneruskan atau tinggal memanfaatkan saja. seperti kini saja, kita bisa memanfaatkan hasil peninggalkan kolonial. Pertanyaannya, apa jadinya Bengkulu, Bencoolen, Benkoelen ini tanpa fakta dan kisah yang ada itu semua”, ujarku membuat Addien mengangguk- anggukan kepalanya, seperti burung jalak kerbau.
Dalam peta maritim Tahun 1714   jelasku, koloni Inggris punya rencana membangun di sekitar Fort Marlborough di Ujung Karang. Termasuk Rat Island atau Pulau Tikus dan Poloo Bay atau Pulau Baai kini.
“Untuk apa dibangun Ndan?” celetuk Addien.
“Lah apa sanak lupa……..Negeri kita inikan dijadikan pusat perdagangan lada oleh British East India Company. Itu sejak Tahun 1685. Kala itu mereka menyebut  Negeri Bengkulu ini sebagai  ‘Old Bencoolen’”.
Addien tampak asyik mendengarkan saya bercerita. Seorang gadis cantik seperti artis luar negeri, yang lagi menanti lampu hijau, persis disebelahnya, menjadi tak tampak oleh Addien. Kali ini tidak seperti kemarin. Sejarah tampaknya bisa merubah seseorang.
Cerita terhenti, saat mobil memasuk pintu gerbang rumah Addien.
“Tampaknya ceritera ini kita lanjutkan sesudah makan  saja Ndan”, kata Addien sembari menutup pintu mobilnya.
“Aku rasa iya………..Tapi alangkah baiknya dinas pendidikan atau dinas pariwisata saja yang menjelaskan. Maksudku biar lebih afdhol. Lagi pula dinas itukan memang tugasnya dan mereka mendapatkan gaji dari pemerintah”, kata ku.
Mendengar itu, Adddien tertawa terbahak-bahak. “Ah dasar……..Cukladi”, celetuknya, hingga membuat anak bininya terheran-heran.
“Hus…..” tegur bininya. “la tuo masih mencarut ajo”.
*Cerpenis tinggal di Bengkulu kota
The post Lamunan di Ujung Karang appeared first on kupasbengkulu.com.

Loading...

Leave A Reply

Your email address will not be published.

five × three =