Otna Pilih Hidup Diatas Sampan Reot dan Air Payau Daripada Hidup Menjadi Budak

Sampan Anto Otna

Kota Bengkulu,Kupasbengkulu.com –  Petang itu suasana di sudut Pesisir Barat Kota Bengkulu di kawasan Kampung Bahari Kelurahan Kandang Kecamatan Selebar Kota Bengkulu, nampak lengang, aroma anyir semakin membuat kesan kawasan pesisir memiliki lingkungan yang tak sehat. Dari kejauhan nampak para nelayan dengan kapal – kapal kecil yang terombang-ambing digoyang laut menambah suasana semakin kental dengan wilayah pesisir, serta kapal – kapal besar yang tengah bersandar di dermaga pulau baai semakin membawa suasan pesisir yang sesak dan kotor.

Belum lagi disepanjang jalan anak – anak kecil bertubuh mungil dan sedikit kumal berada di pondok-pondok reot tempat menjual umpan bagi orang – orang yang hendak memancing di sekitar kawasan Kampung Bahari. Menelusuri jalan yang nyaris dipenuhi oleh lubang semakin memberikan kesan bahwa keadaan lingkungan di Kampung Bahari memang jauh dari kemakmuran, padahal potensi kelautan wilayah pesisir Kota Bengkulu tak kalah saing dengan wilayah-wilayah lainya yang berada di pesisir Indonesia khususnya.

Semakin dalam masuk menuju wilayah Kampung Bahari, pemandangan layaknya desa tertinggal dan aura melarat semakin kentara, hal ini lantaran perempuan tua dan anak kecil mengintip dari jendela melihat siapa yang melewati jalanan yang dirasa oleh mereka memang jarang dilalui oleh orang asing. Tiba disebuah pojok kawasan pesisir bahari, terpampang sebuah tulisan “Dilarang Mancing”, dari sebuah tulisan yang mengundang siapa saja untuk masuk kedalam gang kecil dan kumuh ini menyimpan sejuta harapan dan air mata bagi seorang mantan buruh perusahaan pengelolaan Crude Palm Oil, pria itu bernama Anto Otna, pria berusia (34) warga padang serai ini tengah sibuk menguras air dari sampan kecil yang telah dipenuhi oleh tampitan disetiap dinding sampan. Otna petang itu tampak mengenakan kaos berwarna orange dengan tangan kanan menghisap kretek yang sudah basah terkena Air Payau.

Perawakan yang sedikit gemuk ditambah paras berewok, menimbulkan kesan bahwa Otna adalah sosok yang garang dan tegas, sejurus kemudian Otna menuturkan bahwa sudah sejak lama ia berhubungan dengan air payau terlebih lagi dengan Mangrove, diatas pasir berwarna abu-abu berlaskan papan memandang penuh arti pada sebuah sunset dengan gradiasi jelas berwarna orange kelam, otna mulai menceritakan bahwa dirinya seorang mantan Security Perusahaan CPO PT Tamaco di Kabupaten Morowali Provinsi Sulawesi Tengah, tarikan kretek yang basah dari Otna mengantarkan ceritanya tentang memilihi untuk hidup berdampingan dengan air payau diatas sebuah sampan reot.

Otna mengatakan bahwa memilih menjadi penangkap kepiting, sambil menjaga ekosistem mangrove sebuah pilihan yang tidak mudah, karena baginya memilih sebagai nelayan kecil sambil menjaga eksositem mangrove bukan lantaran ia ingin dianggap sebagai seorang pahlawan, menurut otna kenapa ia memilih untuk menjadi nelayan kecil karena sebuah panggilan hatinya. Lantaran sejak tahun 2005 ia pernah bekerja sebagai Security dan selama ia menjadi seorang security perusahaan selalu meciderai hati rakyat, lalu lingkungan rakyat tak pernah menjadi sehat, maka dengan ikhlas ditahun 2009 ia memantapkan diri untuk membangun gerakan penyelamat mangrove di Bungkuk Morewali Sulawesi Tengah.

“Sekitar 3 (tiga) tahun saya pergi dari perusahaan kemudian setelah mangrove itu sehat lagi saya pulang ke Bengkulu,” Kata Otna.

Otna juga menyadari jika ia tetap keukuh bekerja dibawah perusahaan maka seumur hidupnya takkan pernah merasakan kebebasan, terlebih lagi ia sedikit memahami bahwa semakin ia lama bekerja di sebuah perusahaan yang cenderung memakan keringat para buruh, semakin cepat saja rakyat menjadi “kering”

“Kita sudah sejak lama dijajah negara asing, sekarang cara – cara itu masih berlaku, contoh perusahaan misalnya, hari ini yang bekerja adalah saya, lalu esok dan lusa anak isteri di pekerjakannya, waktu kami bersama hilang,” Ujarnya.

Aktivitas Kapal Berukuran Sedang Mengancam Keberadaan Mangrove

Saat ini Otna, tengah aktiv dalam sebuah Komunitas Mangrove Kampung Bahari( KMKB) meski hanya beranggotakan 3 (Tiga) orang ia bersama ketiga rekannya ini sudah sekitr 5 bulan mereka aktiv dalam proses rehabilitasi Mangrove di sekitar air Payau Kampung Bahari, Otna mengakui jika beberapa waktu lalu ia bersama dengan dua rekanya ini sudah melakukan rehabilitasi Mangrove sebanyak 2000 bibit, hal ini mereka lakukan dengan swadaya bertiga, Otna mengakui ia bersama kedua rekannya ini semakin khawatir melihat keadaan mangrove di kawasan kampung bahari yang kian hari kian memperihatinkan, belum lagi kawasan kampung bahari mulai menjadi salah satu destinasi wisata mangrove.

Menurut Otna ia bersama ketiga rekanya sama sekali tak mempersoalkan jika masyarakat mampu memberdayakan air payau di kampung pesisir sebagai salah satu mata pencarian dengan menggunakan jasa perahu.

“Perahu itu kalau kecil kita tak jadi masalah, tapi perahu-perahu besar itu mengakibatkan mangrove menjadi hancur abrasi dimana-mana, kita nasehati mereka marah, dampaknya ikan – ikan dan hewan endemik disini hilang,”ungkap Otna.

Kemudian hari semakin gelap, Otna berdiri melihat Kapal berukuran sedang nampak keluar dari aliran Air Payau di Kampung Bahari membawa para pengunjung dengan ekspresi yang sumringah, tatapan pria brewok ini kearah kapal tersebut nampak kesal, lalu tanpa kalimat penutup Otna memilih pulang dengan meninggalkan papan dan sampan reot miliknya di tepi Air Payau.

Kampung Pesisir Bahari

Anggi Noveredo

 

 

Tidak ada kometar

Leave a Reply