Panggil Aku Dodo

Ilustrasi

Ilustrasi

Cerpen: Benny Hakim Benardie

Hujan deras disertai badai sore kemarin belum juga berhenti. Buya sama Ummy tampak risau, apalagi air sudah meransek masuk dari selokan dapur rumah.

Anak gadis kebanggaannya, Dodo Reni tak lepas dari lamunan orang tua itu. Apalagi  sedang menjalankan amanah masyarakat, diluar Provinsi Bengkulu, dengan  melintasi lima provinsi di Indonesia. Dilala-nya malam itu
jaringan telepon selular ada gangguan. Kerisauanpun bertambah.

“Ummy, coba telepon temannya yang sering sama Dodo itu, siapa namanya? Siapa tahu mereka saat ini sudah mau  pulang,” tanya Buya.

Perintah Buya tak digubris oleh Ummy yang tampak bolak balik dar kamar menuju ruang tamu. Buya tak melanjutkan pertanyaannya  melihat isterinya  lagi binggung.

“Ya sudahlah”.

“Halo…..Haloooo….Ah, tolalit lagi sinyalnya. Iih…” keluh Ummy kesal.

Dua orang tua itu akhirnya capai sendiri hingga terlelap tidur dikursi tamu, setelah hujan beransur reda sekira pukul 03.27 WIB.

Alunan kumandang adzan membangunkan kedua orangtua   yang tidur dalam kekhawatiran itu. Usai melakukan sholat berjamaah, Buya tampak memanjadkan doa, untuk  keselamatan anak gadisnya, Dodo Reni.

Derai airmata di fajar itu sempat tersendak henti, saat deringan suara handphone Ummy berbunyi berulang-ulang.

“Ya, assalamualaikum,”

“Haloo…..Wa’alaikumsalam. Ummy, ini Dodo. Halooo….Ummy

Dodo balik hari ini sama rombongan”.

Mendengar yang nelepon Dodo, bukan main girangnya Ummy sembari bersyukur pada Tuhan. Sementara Buya yang baru melipat sajadahnya, langsung mendekati Ummy.

“Siapa Um, Dodo ya?”

Ummy terlihat mengagukkan kepalanya dan langsung mendekap suaminya erat-erat. Air mata membasahi baju
piama yang dikenakan Buya.

“Eh…kok nangis? Udah dong, Buya ini masih pakai sarung kok di peluk-peluk. nanti Buya Khilaf gimana kala di peluk begini ”  goda Buya agar isterinya tidak terus menitikan air mata.

***

Dodo Reni pagi itu bersiap-siap untuk untuk berangkat menuju bandara bersama  rombongan. Sembari sumringah Dodo  melangkah menuju bus yang akan mengantarkannya.

Melangkah sembari berhitung sisa uang sisipan dari uang perjalanan.

Yah…Pokoknya masih ada banyak sisanya. Kan oleh-oleh udah dibeli. Kalau sering-sering keluar provinsi, bisa-bisa dapat  beli rumah satu nih,” lamun Dodo saat duduk dikursi Bus yang  mulai berjalan.

Dalam perjalanan Dodo Reni mendengar sayup-sayup lagu yang di putar supir bus, tampaknya supir orang yang berasal dari Minang Kabau, Sumatera Barat. Terakhir baru diketahui Dodo kalau lagu itu berjudul “Takicuah di Nan Tarang”.

Lirik yang di ikenang dalam benak Dodo, saat  penyanyi  menyebutkan satu lirik yang menggelitik hati kecilnya.

“Hilang di nan kalam mungkin biaso
Takicuah di nan tarang hati taibo
Kamano malu Diak kanduang
Ka Denai bao.

Bamulo cinto tumbuah di hati
Adiak bajanji ndak ka bapisah lai
Tapi apo nan tajadi Diak
Sabana padiah hati di dutoi”.

Meskipun Dodo Reni bukan berasal dari daerah Minang, namun dirinya cukup mengerti dari lirik itu, karena beberapa temannya saat berkumpul acapkali melantunkan lagu itu.

***

Tak terasa bus berhenti di pintu bandara. Saat turun dari bus, Dodo paling akhir. Rekan serombongannya sudah berlari-lari  kecil, sementara Dodo sibuk dengan bawaannya.

Saat akan masuk pintu, salah satu kantong bawaan Dodo  terjatuh, akibat terkena senggolan seorang pria kekar berbaju gamis, perawakan dingin dengan jenggotnya yang bak lebah  bergantung.

“Eh maaf puan, saya tidak sengaja menyenggol bawaan

puan,” katanya, sembari membantu membereskan isi kantong yang sedikit berantakan.

“Eh tidak apa-apa, kan nggak sengaja”.

Usai beres, Dodo Reni bergegas berlari-lari kecil, menyusul  rekannya yang lain.

Dasar pucuk cinta ulampun tiba.  Ternyata pria yang tadi membuat katong bawaan Dodo jatuh tadi tujuan keberangkatannya  sama, dan nomor kursi persis sebelah Dodo.

Dalam masa penerbangan itulah mereka tampak sempat  bercakap-cakap. Terkadang tampak Dodo tersipu malu,
sementara berjenggot itu telihat tersenyum. Merekapun sempat bertukar nomor hendphone, hingga akhirnya mereka berpisah di parkiran bandara.

“Eh puan, ane lupa nama puan siapa?”

Dengan Sumringah dijawab, ” panggil Aku Dodo”.

“O ya…..Aku Docik,” teriak pria itu berlalu.

***

Setibanya di rumah, belum sempat menaruh tasnya, pelukan  Ummy disertai tanggisanpun pecah. Dodo sedikit bingung, ikut memeluk Ummy.

Rupanya, di luar halaman rumah, tampak puluhan orang  melihat kedatangan Dodo dan tampak ingin menemuinya.  Dodo melihat gelagat itu, segera berpesan sama Alim yang  biasa  menjaga rumahnya, agar orang-orang  itu kalau mau  menemuinya besok pagi saja.

“Bilang saja Dodo lagi capek Lim”.

Usai puluhan orang itu pergi dengan sedikit kecewa, Dodo sempat bertanya, kenapa di rumah ada bercak lumpur hingga dapur. Usai dijelaskan Ummy, Dodo tampak tertawa,

“Ooo…..Ya udah, kita lihat oleh-olehnya diatas kasur aja”.

Ide itu disambut riuh dua keponakannya.  “Aasyiiik…Ada oleh-oleh”.

Belum sempat bercanda diatas kasur, hanphone Dodo berdering. Ternyata yang memanggil adalah Docik,  kenalannya di pesawat tadi. Berkali-kali telepon tak diangkat, hingga akhirnya suara ketukkan pintu terdengar keras.

Saat dilihat, ternyata teman-teman Dodo Reni saat berangkat tadi diriingi serombongan bersenjata. Ternyata, diantara orang-orang yang ada, tampak Docik yang masih mengenakan baju piamanya.

Rombongan itu ternyata adalah aparat penegak hukum, yang mencium indikasi tidak pidana korupsi dari salah seorang tersangka rekan Dodo. Nafas Dodo Reni tampak sesak seketika, hinga ia tak sadarkan diri.

Penulis dan jurnalis       

gambar-1







Tidak ada kometar

Leave a Reply