Para Tawanan Lebah

0
Ilustrasi
Ilustrasi

Cerpen: Seto Permada

Rumah yang tegak sunyi di samping sungai ujung desa diserang gerombolan lebah. Mula-mula dengung itu hanya samar-samar. Merangsek masuk dari lubang jendela, celah pintu, maupun dari cerobong asap, ketika Kiran dan ibunya tengah bermimpi didatangi oleh peri-peri ikan.

Kata orang dahulu, apabila bermimpi tentang ikan, maka akan mendapat keberuntungan. Begitulah, ketika lebah-lebah yang terbang serta mendengung-dengung itu menggotong Kiran dan ibunya, mereka berdua tersenyum seraya masih menutup mata.

***
Mata Kiran terbangun dan mendapati dirinya tengah berada di dalam ruang yang gelap. Jika diraba betul-betul, ruangan itu berbentuk silinder memanjang. Ia mencari-cari ibunya: tidak ada. Ia memanggil-manggil ibunya: tidak ada suara yang keluar dari mulutnya.

Barulah tahu saat selaput tipis putih di bawah kakinya diterobos oleh benda runcing. Lamat-lamat terdengar dengung lebah yang bising dan panjang. Pasti ini mimpi, batinnya. Mimpi kan sering berubah-ubah tampilannya.

“Masukkan ulat-ulat itu!” suara dari luar ruangan terdengar nyaring hingga kepala Kiran pusing.

Hanya sebentar saja selaput putih yang tipis di bawah kakinya itu memunculkan ruang. Karena kemudian tak lama tertutup kembali dan kembali dirasuki oleh kegelapan.

Kiran meraba-raba. Di bawah kakinya ada benda lunak yang diam tak bergerak. Ia menyepak-nyepak benda lunak itu.

Tetap saja tak ada reaksi yang didapatkan. Tak disangka, ada suara yang bisa ia tangkap. Suara yang muncul tepat di atas kepalanya.

“Jangan menyepak ulat-ulatku!”

Kiran kemudian diam. Tak bergerak satu inci pun.

“Mereka adalah makananku. Kamu juga makananku!”

Mendengar kalimat terakhir terlontar, Kiran merasa tak enak. Maka, ia pun menyahut sekenanya. “Di mana ibuku?”
“Apa peduliku?”

“Di mana ibuku?” ulangnya. “Di mana ibuku?” dan kali ini ditambah suara tangisan. Baru kali ini suaranya bisa didengar oleh suara lain. “Apakah ini mimpi?” katanya untuk menegaskan.

“Mimpi? Hahaha, kau gila. Kalau ini mimpi, cobalah kau bangun sekarang.”

Badan Kiran digoyangkan ke sana kemari. Membentur-bentur dinding silinder itu. Ia menggigit kedua jarinya dengan sekuat tenaga. Ah, rupanya bukan mimpi. Jika bukan mimpi, mengapa bisa berada di tempat seperti itu?

“Mengapa aku bisa berada di tempat sepert ini? Apa maksudnya? Dan bagaimana bisa?”

Ada helaan napas terdengar jelas memenuhi telinga Kiran. Helaan itu datang tepat dari atas kepalanya.

“Seribu lebah masing-masing keluar sarang. Seribu lebah masing-masing melancarkan serangan. Seribu lebah mencoba mengukir sejarah. Bangsa lebah tak selamanya lemah. Maka, musim ini adalah musim yang baik untuk menawan.

Jarum di bawah bokong kami menjadi sangat aktif jika digunakan. Belum ada yang sekalipun bisa keluar hidup-hidup ketika sudah terinfeksi oleh jarum lebah. Jarum-jarum lebah mengubah sejarah.

Kami menawan para manusia, yang kerap menawan sarang-sarang kami untuk dijadikan minuman dalam botol. Mereka kita kami suka? Asap yang dilancarkan membuat kepala kami pusing. Lalu dengan seenak hati, mencampuri rumah-rumah lebah dengan asap yang mengepul.

Lebah pun keluar dan menjauh. Saat-saat itulah tangan-tangan yang haus madu mencari-cari. Dan ketika dapat, sarang itu digigit hingga bibir menetes-netes madu yang begitu pekat. Itu madu kami! Itu madu kami! Kami sudah lama ingin menawan. Barulah musim ini terlaksana. Ribuan lebah berkoloni. Ribuan lebah saling berunding. Ribuan lebah saling sepakat. Aku bisa mendengar ketika masih tinggal di rahim. Rahimku adalah di sini.

Ruangan ini adalah dinding-dinding yang akan menyambut kelahiranku. Dan para tawanan harus mau digunakan sebagai bahan makanan.

Kiran bergidik mendengar penuturan yang panjang dari—yang ia yakini kini—anakan lebah. Kedua tangannya mencoba menggapai atas kepalanya. Namun yang ia gapai hanya udara kosong.

“Ibu di mana!”

“Hek, berani membentak ya? Nanti kupanggil Bapak dan Ibuku untuk menyuntikmu lagi. Mau? Biar kau jadi lebih kecil dan tak banyak omong.”

Imajinasi Kiran bertarung dengan keinginannya keluar dari tempat itu. Ia membayangkan, jika ia terkurung di sana hingga tua, apalah jadinya? Tentu saja itu bukan suatu keberuntungan. Tentu itu adalah suatu hal yang tak diinginkan. Bukankah mimpi mendapat ikan berarti akan mendapat keberuntungan besar? Kalau iya, kenapa bisa terjebak di dalam sarang lebah? Tentu itu bukan keberuntungan.

Arti mimpi itu hanya omong kosong dari manusia-manusia yang pandai membual kepada manusia-manusia yang tak berdosa, seperti dirinya. Ia meronta. Ia tak tahu mana pagi, siang, malam, dini hari.

***
Setelah dirasanya, perut Kiran lapar. Berkerucuk. Minta diisi. Sementara pikirannya jauh masih memikirkan di mana Ibunya berada.

“Tuan lebah, adakah yang bisa kumakan di sini?” iba Kiran yang tak mendapat respon sama sekali.

Malahan dari kegelapan itu terdengar suara kraus-kraus yang keras. Seperti suara mulut yang tengah beradu dengan makanan yang renyah tapi basah. Barangkali dia sedang memakan tulang-tulang ulat yang pernah dimasukkan. Tapi, bagaimana bisa? Bukankah ulat-ulat semula itu berada di kakinya?

“Heh, tuan lebah. Kamu sedang makan?”

“Lagi makan jangan diganggu!” suara penuh itu merespon. “Sebentar lagi giliranmu!”

Kiran menangis ketika mendengar akan dimakan oleh anakan lebah. Ia meronta-ronta. Menyepak-nyepak dinding silinder itu sekuat tenaga. Dengan sisa tenaga yang ada. Ia menunduk. Menggigiti selaput putih yang berada tepat di bawah kakinya. Ia menggigiti terus sampai benar-benar ada yang tergigit.

Ketika berhari-hari menggigiti, barulah ia merasa sekat yang membatasi mulai menipis. Mulai ada harapan dan ruang yang tumbuh dari dalam dadanya bahwa ia bisa keluar.

Tibalah dimana, suara lebah itu mendekat. Semakin hari, semakin suara lebah itu bertambah besar. Kalau di dunia manusia sendiri, seperti ada tangga bariton hingga tenor.

“Saatnya makan!”

Pundak Kiran dipegangi begitu rupa. Namun ia terus menggigiti, menggigiti, menggigiti lapisan di bawahnya. Sampai pada suatu titik, ia berhasil lepas dari cengekraman. Ia bisa keluar dari dalam ruangan silinder yang gelap gulita itu.

Akhirnya ia bisa melihat cahaya luar yang terang  bernderang.
Namun alangkah terkejutnya, ketika ia kini mendapati dirinya mengambang. Berada di dalam silinder yang maha luas. Seperti selubung yang menyelubungi bumi. Ia bisa melihat orang-orang di bawah sana tengah menyirami rumahnya dengan air. Asap-asap mengepul. Dari dalam rumah yang habis terbakar itu, ia bisa melihat dirinya sendiri dan juga Ibunya tengah digotong keluar oleh para tetangga.

Kiran pun punya inisiatif lagi. Ia menggigiti selubung baru yang menghalanginya dari dunia luar. Ia terus menggigiti, menggigiti, menggigiti.

“Aku harus bisa keluar dari sini dan menemukan Ibu. Pasti ini mimpi.”

Ia mendongak ke atas. Betapa matanya terbelalak melihat para tawanan satu per satu dimasukkan ke dalam sarang lebah setelah sebelumnya dipaksa agar mau menjalani prosesi pengecilan tubuh.

***
Purworejo, 2016
Seto Permada, lahir tanggal 12 Oktober 1994 di Purworejo. Cerpen-cerpennya dapat dijumpai dalam antologi buku Ritual Lapaong Astral (2016) dan Kota Gudik (2016). Sejumlah karyanya tersebar di berbagai media.

Leave A Reply

Your email address will not be published.