Pemecah Batu dan Masa Laluku

Oleh : Ujang MartinAP

Sesal, kesal membaur menjadi satu saat Umar mengenang kisahnya beberapa tahun lalu. Akibat Narkoba, daya fikir, fisik hingga lingkungan sosial menjadi masalah bahkan momok yang menerpanya.

“Ahgh….. tapi itukan cerita mudaku dulu,” pikir Umar sembari memecah batu pesanan seorang pengusaha. Umar yang tiap hari hanya menjadi buruh pemecah batu, menjalang sore baru kembali kerumahnya. Baru tiba di pintu pagar rumah, seorang gadis mungil berteriak menyambut Umar.

“Bapaak pulang,” tegur Erna sembari belari-lari kecil mengejar bapaknya yang basah dengan peluh. Tegak kepala Umar yang kuyuh saat pulang memecah batu. “aduh….Anak Bapak,” sambut Umar sembari mengelus kepala anaknya.

“Memang Erna tadi mainan dimana? Main lagi sana sama teman-temanya, tapi jangan main dipinggir sungai ya nak,” kata Umar sembari masuk kedalam rumah. Ernapun belalu bersama temannya. “Assalamu’alaikum,” ucap Umar sambil menghela nafas panjang.

“Wa’alaikumsalam. Ee Mas… Sudah pulang ya”, tegur Ngadimun isteri Umar saat melihat suaminya datang. “Ia nih Ngad, hari ini tumpukan batu sudah saya pecahkan semua. Tinggal lagi uangnya dari mandor besok,” jawab Umar. “Berapa uangnya Mas?” tanya Ngadimun.

“Kamu nih bukannya buat minum, malah tanya uang hasil mecahkan batu. Nanti kepala kamu aku pecahkan”, tegur Umar tampak berang. Tahu salah, bergegas Ngadimun lari kedapur mengambil air minum untuk suaminya, ditaruhnya diatas meja.

“Maaf Mas, aku khilaf ,” sambil mengambil jari Umar dan menciumnya bak layaknya satunya putri Jawa Tengah. Umarpun tampak luluh dan memeluk isterinya. “Ah kamu bisa aja, aku tadikan cuman bergurau”.

Mereka tampak duduk dan bergurau pelepas penat di bale bale bambu yang dibuat sendiri oleh Umar. Dengan lemah lembut suara syahdu, Ngadimun membisikan di telinga Umar.

“Ngadimun ….Mas… ah Mas,” panggil lembut Ngadimun yang sering dicandain ‘Ngangak Dikit Muntah’ oleh Umar. “Apa,” kata Umar memalingkan kepala ke arah isterinya. “A…a…aku rapopo,” bisik Ngadimun membuat mereka berdua tertawa terkekeh-kekeh.

Melepaskan gundah gulana dengan bercanda, acapkali dilakukan pasangan yang sama-sama mempunyai masa lalu yang tersesali itu. Ditolak Ngutang “Aduh mas, beras sayur habis kabeh.

anakmu belum makan”. :Tapi sabar ya, mas mu ini akan coba pinjam ke warung sebentar,” jawab Umar dengan niat menenangkan istrinya. Bergegas Umarpun pergi ke warung yang tidak jauh dari rumahnya dengan niat ingin meminjam beras. namun rencana mau ngutang pupus, pemilik warung enggan memberikan hutangan, karena hutang lama belum dibayar Umar.

Pilu bercambur binggung Umar, tampak dari raut mukanya yang memerah. Terbetik kembali masa lalunya yang sempat membuat benci warga desa, akibat ulah Narkobanya dahulu. Memang semenjak Umar keluar dari penjara beberapa tahun lalu, kepercayaan masyarakat ke Umar berkurang.

“Ya Allah ringankanlah cobaanmu ini,” gumam Umar sambil berlalu dari warung. Masyarakat memang tidak menyadari kalau Umar sebenarnya bukan Umar yang dulu lagi. “Kemana aku harus mencari uang, haruskah aku … ahgh tidak… tidak,” kata Umar ngedumel sendiri dipinggir jalan.

“Pssst…..orang ini sudah gila,” ujar anak sekolah pada temannya, melihat Umar ngomong sendiri. Umar sadar, kalau ada yang menceirtakan dirinya. hanya saja itu tidak ditanggapinya. “Kalau aku tegur anak sekolah ini, nanti dikira aku gila benaran. Lah….Kalau aku gila orang ketawa, anak bini aku gimana,” lamun Umar yang pernah banyak uang saat mudanya dulu.(**)

Tidak ada kometar

Leave a Reply