Lokalisasi Prostitusi 'Yang Tau' saat pagi menjelang.

Lokalisasi Prostitusi ‘Yang Tau’ saat pagi menjelang.

Kota Bengkulu, kupasbengkulu.com – Pemerintah akan menutup semua tempat prostitusi atau lokalisasi di Indonesia. Ditargetkan, 2019, Indonesia bebas lokalisasi.

Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawangsa menyampaikan, target tersebut serius. Pihaknya sudah berkoordinasi dengan kepala daerah dan dinas sosial setempat untuk memuluskan rencana tersebut? lalu bagaimana dengan Kota Bengkulu?

kupasbengkulu.com menemukan aktifitas prostitusi di Kelurahan Sumber Jaya RT 8 Kecamatan Kampung Melayu Kota Bengkulu masih berlangsung.

Padahal pemerintah telah menutup lokalisasi tersebut dan menggantikan namanya dengan eks lokalisasi. Faktanya, aktifitas prostitusi tetap saja berlangsung.

(Sambungan: Penghuni Kalijodo Eksodus ke Eks-Lokalisasi Pulau Baai)

Hal mengejutkan terlihat saat ia menangis malu di hadapan kupasbengkulu.com, ia menangis bukan kurangnya pelanggan dirinya. Namun dikarenakan kebosanan pekerjaan yang ia jalani. Wajar saja, ia mengenal dunia malam tersebut sejak umur 12 tahun. Dimana umur tersebut terbilang masih merasakan kehidupan anak anak sewajarnya.

“Entah lah bang, gimana ngomong nya. Jujur capek begini, orang tua saya sudah bercerai. Mereka sudah tidak peduli, Jadi terpaksa saya jalani kehidupan ini” sembari meneteskan air mata.

Dari semalam perempuan itu dapat meraup uang jutaan rupiah. Namun dari kelelahannya, ia mengaku sangat ingin menjalankan kehidupan yang wajar. Selain itu ia ingin melanjutkan Sekolahnya ke Perguruan Tinggi. Ia mengharapkan Pemerintah dapat menjaring para pekerja seks yang berada disana untuk bekerja dengan skill kemampuan postive.

“Banyak disini bang yang bisa menjahit. Selain itu juga banyak yang pintar berdagang, saya mengharapkan ada bantuan pemerintah untuk mewujudkan itu semua,” imbuhnya.

Dalam pembangunannya, lokalisasi Pulau Baai berdiri kisaran tahun 1989. Pada tahun 2002, Pemerintah Provinsi Bengkulu menutup kawasan tersebut dan memberikan bantuan usaha bagi para PSK beserta uang saku untuk dipulangkan ke kampung halaman masing-masing. Bantuan usaha tersebut adalah seperangkat alat jahit.

Sayang, terobosan pemerintah kala itu tidak membuahkan hasil. Sebab, ketika dipulangkan secara serentak, para PSK itu justru turun di jalan dan melakukan aktivitas di beberapa tempat dalam Kota Bengkulu. Akibatnya, prostitusi liar terjadi pada saat itu dan membuat masyarakat terganggu.(tamat)