Pertengkaran di Malam Minggu

Cerpen: Sulistiyo Suparno

Cerpen: Sulistiyo Suparno

Sampul majalah itu pink dengan model seorang cewek berambut sebahu. Hidungnya mancung, bibir mungil merah merekah, dagu lancip, sepasang matanya bulat bening seperti bayi. Kulitnya putih bersih. Bikin Reyna iri saja.

Lama Reyna memandangi cewek dalam sampul majalah itu. Seperti apa ya jadi gadis sampul? Pasti asyik. Wajah dan nama jadi terkenal dan pasti banyak duit. Terbentang pula jalan menjadi bintang sinetron atau iklan.

Reyna ingin menjadi gadis sampul. Tetapi, uff, hidung Reyna melesak ke dalam, bibir agak tebal, mata lumayan sipit, nama mungkin jadi gadis sampul?

Hhh..

Angan Reyna yang melambung, mendarat kembali pada realita, ketika mobil Rio berhenti di halaman rumah. Reyna meletakkan majalah itu di meja teras dan bangkit dari kursi. Reyna membalas senyum Rio. Senyum gagah Rio, seketika menyegarkan pikiran Reyna dari impian menjadi gadis sampul yang mustahil terwujud itu.

Rio duduk di samping Reyna. Reyna meraih majalah itu dari meja teras dan menunjukkannya pada Rio.

“Cantik sekali ya cewek ini, Rio?” kata Reyna.

Rio tertegun. Memang wajah cewek di sampul majalah itu mampu membuat siapa saja kagum.

“Yah, cantik,” jawab Rio tidak respek.

“Kalau aku jadi gadis sampul, kamu suka nggak?” tanya Reyna iseng.

Cowok manapun pasti bangga kalau pacarnya jadi gadis sampul.
“Nggak. Aku nggak suka!”

“Mengapa?”

“Cewek kalau sudah terkenal, maka tuntutannya macam-macam dan nggak setia. Aku nggak mau kamu seperti itu.”

“Aku nggak akan seperti itu. Aku hanya cinta kamu, Rio.”

“Kalau kamu terkenal, kamu juga akan berubah. Melupakanku.”

“Mungkin aku akan berubah, tapi aku akan selalu setia sama kamu, Rio.”

“Sudahlah,” Rio memotong. “Benar, kamu ingin jadi gadis sampul?”

“Nggak juga, sih. Aku cuma berkhayal.”
“Aku nggak suka khayalanmu!”

Reyna terhenyak. Tidak biasanya Rio segusar itu. Apa salahnya berkhayal? Selama ini hubungan mereka juga penuh khayalan; punya mobil sport, rumah mewah, melancong ke luar negeri, dan keasyikan duniawi lainnya. Apa Rio sedang ada masalah dengan papa atau mamanya, ya?

“Oke, kita lupakan saja, ya?” Reyna mengalah. Buang-buang kemesraan kalau diteruskan. Lebih baik Reyna melakukan rencana malam itu.

Mereka pergi ke bioskop di sebuah mal. Dalam perjalanan itu, mereka banyak diam. Wajah gadis sampul itu masih melekat dalam benak Reyna. Apa yang dipikirkan Rio, entahlah.

Ketika sampai di area bioskop, ternyata loket belum dibuka. Pertunjukan ketiga masih setengah jam lagi. Biasanya, loket dibuka lima belas menit sebelum jam pertunjukan. Reyna mengajak Rio untuk jalan-jalan dulu, menikmati keramaian mal.

Ini malam Minggu. Mal penuh dengan anak muda. Wajah-wajah mereka ceria, dandanan mereka modis. Cowoknya ganteng-ganteng, ceweknya cantik-cantik. Hmm, di antara cewek cantik itu, adakah yang pernah menjadi gadis sampul?

Mata Reyna menatap lekat seorang cewek yang naik eskalator. Cewek itu berwajah imut, seperti bintang sinetron yang sedang beken saat ini.

“Lihat, Rio. Cewek itu seperti gadis dalam majalahku. Cuma dia lebih muda,” seru Reyna.

“Apa?” Rio tersentak.

Ups, Reyna melakukannya lagi. Reyna lupa, Rio benci bicara tentang gadis sampul. Reyna menyeringai, meminta maaf. Reyna melirik jam tangannya. Loket bioskop pasti sudah buka.

“Kita jadi nonton, kan, Rio?”

Rio hanya bergumam. Rio memang begitu. Dingin dan misterius. Setahun jadian sama Rio, Reyna belum mengenal pacarnya itu secara utuh. Meski begitu, Reyna mencoba tersenyum.

“Yuk, loket pasti sudah buka,” Reyna menarik tangan Rio.
Memasuki area bioskop, Reyna duduk di kursi ruang tunggu. Di sebelahnya, duduk seorang cewek dengan majalah di pangkuannya. Majalah bersampul pink, sama seperti majalah Reyna.

“Cantik sekali ya gadis sampul ini?” kata Reyna.

Cewek di sebelahnya menoleh dan tersenyum.

“Ya, cantik sekali. Sebentar lagi dia pasti terkenal,” sahutnya.

Rio datang membawa dua tiket. Rio melirik majalah di pangkuan cewek di sebelah Reyna. Mata Rio tampak berkilat. Reyna paham gelagat itu dan ia segera berdiri, mengajak Rio melihat-lihat poster film.

Ketika pintu theatre terbuka, mereka segera masuk. Seperti biasa, Reyna lebih banyak bicara menunggu film diputar. Rio hanya menanggapi dengan kalimat-kalimat pendek.

Kemudian lampu padam. Satu per satu film ekstra berlalu dari layar perak. Kemudian mulailah film utama. Astaga! Bayangan gadis sampul itu menyergap benak Reyna. Reyna membayangkan, kelak ia akan melihat gadis sampul itu berakting di layar lebar. Bila itu terjadi, apa Rio mau menemani Reyna nonton film yang dibintangi gadis sampul itu?

Dua jam kemudian mereka sudah berada di pelataran parkir mal. Reyna melihat penjual topi anyaman rotan di trotoar depan mal. Kelihatanya bagus-bagus. Reyna menarik tangan Rio mendekat ke penjual itu. Reyna memilah-milah. Topinya unik-unik. Ada topi model pesulap dan Reyna mencobanya.

“Beli topi pesulap ini ya, Rio?” kata Reyna agak merengek.

Rio tidak menjawab, tetapi segera membayar topi itu. Sepasang mata Reyna berbinar gembira dan ia memakai topi pesulap itu menuju mobil. Coba kalau gadis sampul itu memakai topi pesulap dari anyaman rotan, pasti lucu dan cute habis.

Dalam perjalanan, di dalam mobil, Reyna masih memakai topi itu.

“Cantik nggak, Rio?” tanya Reyna.

“Cantik,” sahut Rio melirik Reyna. Kali ini Rio mau tersenyum, meski tipis.

“Cantik mana sama gadis sampul itu?”

Ciiiittt

Rio mengerem mendadak mobilnya. Tubuh Reyna terdorong ke depan. Bila saja Reyna lupa mengenakan seatbelt, wajah Reyna pasti sudah mencium dashboard.

“Kamu kenapa sih, Rio! Kamu hampir membunuhku, tahu!” akhirnya keluar juga kemarahan Reyna.

“Berapa kali harus kukatakan, jangan sebut-sebut lagi gadis sampul itu!”

“Kamu kenapa, sih, Rio? Kamu selalu sewot kalau aku bicara tentang gadis sampul itu. Memangnya ada urusan apa kamu sama dia!”

“Karena dia mantan pacarku!”

Reyna terhenyak. Kini, semua menjadi jelas.

***SELESAI***

Sulistiyo Suparno, kelahiran Batang, 9 Mei 1974. Cerpen-cerpennya tersiar di Minggu Pagi, Suara Merdeka, Nova, Banjarmasin Post, Tanjungpinang Pos, Radar Surabaya dan media lainnya. Bergiat di Komunitas Pena, perkumpulan penulis di Batang. Bermukim di Batang, Jawa Tengah.

Tidak ada kometar

Leave a Reply