QUARY di Tepian Sungai Padang Guci Rusak Areal Persawahan Masyarakat

Alat Berat yang digunakan untuk melakukan aktivitas pengerukan material pasir di Aliran Sungai Padang Guci

Kota Bengkulu,Kupasbengkulu.com – Keberadaan Sungai Padang Guci menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi dikenalnya wilayah Padang Guci Kabupaten Kaur Provinsi Bengkulu sebagai sentral penghasil beras terbesar di Provinsi Bengkulu, namun lantaran adanya aktivitas penambangan pasir batu (Galian C) di Sungai Padang Guci, telah menghancurkan ekosistem yang ada, salah satunya berdampak pada mengurangnya lahan pertanian milik masyarakat.

Hal ini dikatakan oleh Beny Ardiansyah Direktur Eksekutif WALHI Bengkulu, bahwa akibat dari penambangan pasir batu di wilayah tersebut, secara jelas telah menghancurkan sumber – sumber kehidupan masyarakat yang bergantung pada hasil tani dengan memanfaatkan aliran sungai padang guci yang mengaliri 3 Kecamatan, yakni Kecamatan Padang Guci Hulu, Kecamatan Kaur Utara dan Kecamatan Padang Guci hilir, ketiga kecamatan ini merupakan wilayah yang terkena dampak langsung akibat adanya aktivitas tersebut. Selanjutnya diturturkan pula oleh Beni, bahwa dari hasil investigasi yang dilakukan oleh WALHI Bengkulu beberapa waktu lalu, ditemukan fakta, lokasi penambangan pasir batu dibagian hilir Desa Ulak Agung, Kecamatan Padang Guci Hilir Kabupaten Kaur Provinsi Bengkulu, hingga menyebabkan melebarnya penampang sungai sepanjang 20-30 meter, sehingga lahan persawahan dan kebun masyarakat yang menjadi hilang.

“Kita menduga Quary Rosismaini dan Quary Wahyati, yang diduga sebagai penyebab turunnya material yang berada di hilir yakni berdampak pada meningkatnya material sungai yang menyebabkan masyarakat kehilangan areal persawahan dan kebun campuran milik masyarakat,” katanya.

Parahnya ini telah terjadi selama 5 tahun terakhir,dan jadwal menanam padi di areal persawahan seluas kurang lebih 600 Ha di Kecamatan Padang Guci Hilir menjadi tidak menentu karena keberadaan galian c sangat mempengaruhinya, dari hasil investigasi ini juga ditemukan fakta perihal penanaman padi oleh masyarkat yang pada umumnya mengakui sebelum adanya aktivitas galian c mereka menanam dalam kurun waktu satu tahun dapat melakukan dua kali penanaman.

“Setelah adanya operasi yang dilakukan oleh kedua Quary Rosismaini dan Quary Wahyati, menyebabkan masyarakat di Kecamatan Padang Guci Hilir hanya bisa menanam padi 1 kali dalam kurun waktu 1- 2 tahun, jelas ini merusak tatananan perekonomian masyarakat dan keberadaan sungai menjadi momok menakutan, padahal yang membuat itu adalah galian C,.”ungkapnya.

Selain itu terdapat juga lahan seluas 97 Ha di desa Gunung Agung Kecamatan Kaur Utara tidak bisa dimanfaatkan lagi oleh masyarakat desa karena kondisi sungai air padang guci sekarang terjadi pendalaman dan abrasi kurang lebih 3 meter ke permukaan sawah. Oleh karena itu Beni ardiansyah selaku Direktur WALHI Bengkulu merekomendasikan kepada pemerintah Provinsi Bengkulu khususnya Dinas Energi Sumberdaya dan Mineral (ESDM) Provinsi Bengkulu, segera mengevaluasi aktivitas kedua Quary tersebut, dan segera mencabut izin permanen atas operasi penambangan Pasir Batu yang dilakukan Quary tersebut, mengingat bencana ekologi telah terjadi di padang guci hilir yang disebabkan oleh kedua Quary tersebut.

“Kita sangat menginginkan ini ditindak tegas,karena sumber-sumber kehidupan disana sudah bisa dikatakan sudah darurat, terlebih di kecamatan yang terdampak ada tiga disana itu,” tandasnya.

Kemudian menanggapi apa yang menjadi keinginan WALHI Bengkulu atas dugaan kerusakan areal persawahan dan melebarnya aliran sungai yang diduga disebabkan oleh aktivitas galian C tersebut, Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Bengkulu Ahyan Endu, menegaskan bahwa ia akan segera menindak lanjuti apa yang menjadi temuan WALHI Bengkulu, langkah ini ia ambil lantaran telah menjadi pusat perhatian serius di wilayah Kabupaten Kaur.

“Menurut saya wajar jika masyarakat bergejolak dengan aktivitas itu, pertama pengusahanya tidak bisa merawat hubungan baik dengan masyarakat, saya juga sudah banyak dihubungi oleh masyarakat untuk menindak lanjutinya, tapikan disana ada pihak lingkungan hidupnya kabupaten yang bisa menghandlenya dahulu, lalu jika itu sudah dilakukan dan tidak juga selesai, kita bisa masuk nanti kesana dan kita ambil tindakan nantinya, yang jelas tim kita tadi, ada Kasi Bebatuan yang turub kesana untuk melihat kejadian langsung” tandasnya.(nvd)

Tidak ada kometar

Leave a Reply